KESEPIAN DAN DAYA LENTING DI MASA SULIT

Rumah Kita, 7 Juli 2021 Sudah dua bulan saya kembali ke kampung, sebuah desa yang terdaftar sebagai bagian dari wilayah pemerintahan kabup...

Rumah Kita, 7 Juli 2021


Sudah dua bulan saya kembali ke kampung, sebuah desa yang terdaftar sebagai bagian dari wilayah pemerintahan kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Kepulangan kali ini berbeda dengan kepulangan dua tahun ini. Ini bukan cuti. Pulang kampung yang bukan karena ingin memberontak pada larangan mudik oleh pemerintah namun sebuah keputusan rasional bila kontrak kerja telah selesai dan belum juga dapat pekerjaan baru. Pulang adalah keputusan paling logis dan realistis meski sempat berpikir akan menetap sementara di Jakarta sambil mencari pekerjaan baru, namun kalkulasi di masa pandemi yang menghajar keuangan  sebagian besar manusia di bumi ini mengarahkan lebih baik di kampung. Selain lebih hemat juga rasanya lebih aman bersama keluarga dan di desa yang masih sepi dengan ladang, hutan yang masih bisa dilihat tiap hari dan udara yang masih sejuk. Namun yang paling penting sejauh ini belum ada kasus Covid-19 di sini dan semoga tidak akan pernah ada.

 

Bulan pertama di kampung tabungan paling cair habis terkuras karena di kampungpun sedang musim paceklik.  Bapak Ibuku tidak punya pendapatan. Bulan kedua musim kemarau tiba, aku bersama bapak ibuku mulai menanami bayam, sawi manis, kangkung, bawang batak, bawang prei dan kacang panjang. Semua butuh disiram setidaknya dua hari sekali, semua kami lakukan dengan manual.  Doa-doa aku ucapkan dalam setiap proses menanam, menyiram, memupuk seluruh tanaman kami. Kiranya hama dijauhkan dan harga jual di masa panen nanti dapat kami andalkan. Untuk petani yang hanya menyewa sawah sepetak itu, tentu impian kami sama sekali tidak muluk-muluk. Sekedar agar hasil panen bisa menutupi biaya hidup sehari-hari dan untuk modal bertanam lagi setelahnya.

 

Aku sebenarnya sudah menerima informasi pekerjaan baru di sebuah pulau di Nusantara ini namun karena satu dan lain hal pihak manajemen belum dapat memberikan kepastian kapan akhirnya bisa berangkat di situasi mengkhawatirkan begini.

 

Kondisi keuanganku yang meringis, ketiadaan teman sebaya yang menetap di desa dan hari-hari melihat keletihan ibu bapakku ke ladang bercampur menjadi satu. Aku kesepian. Sempat pikiran-pikiran buruk berseliweran di kepala  saat menjelang sore. Berbagai pelarian pun dijabani mulai dari scrolling di berbagai aplikasi media sosial, memaksa mata tertidur, memasak kudapan tradisional dan makanan sehat hingga menulis jurnal harian. Pilihan pertama malah menambah kebisingan karena bombardir berita tidak menyenangkan hingga terpicu merasa diri tidak cukup karena membandingkan eksistensinya dengan berbagai influencers dan pilihan paling membantu lebih tentram ternyata adalah yang terakhir: menulis jurnal harian. Sementara bereksperimen dengan masakan di dapur selalu menyenangkan.

 

Dua minggu ini tanaman kami mulai panen. Memang bayam, sawi manis dan kangkung sudah bisa dipanen pada usia tiga minggu dengan catatan cukup hujan. Mataku bersinar, langkahku bergegas setiap kali akan ke ladang sayuran kami yang terlihat sangat buru-buru ingin dipanen. Kami telah merawat seromantis mungkin dengan mengajak mereka bercakap-cakap. Kalimat afirmasi yang selalu kuucapkan adalah “kalian bagus-bagus ya tumbuhnya, jangan menyerah, kami sayang dan butuh kalian. Semoga harga kalian layak ya..” sambil kusentuh dedaunan hijau yang mengembang. Begitu terus setiap kali aku melihat mereka. Ternyata harganya pas-pasan sekali untuk menutupi biaya hidup sehari-hari dan biaya membeli benih, pupuk dan pestisida tertentu. Ibuku selalu saja bisa bersyukur sementara aku masih saja gusar dan sedih dengan harga jual sayuran kami itu.

 

Lingkaran Pendukung

Sebagai manusia lajang yang segera memasuki usia 31, tentulah lingkaran pertemananku juga semakin sempit tetapi yang ada di lingkaranku pun kujaga dengan baik dan ikhlas karena aku suka dan sayang sama teman-temanku yang saat ini tersebar di Pulau Jawa dan Sumatera.

Sebelum pandemipun komunikasi kami memang cukup intens dan menyenangkan, aku bersyukur sekali di masa pandemi ini kami ternyata lebih intens berkomunikasi dan saling bertanya kabar bahkan bercerita tentang kegaduhan hati dan pikiran kami di hari-hari yang semakin tak tentu ini.

 

Beberapa dari kawanku ada yang dipotong gajinya sejak awal pandemi dan masih berlanjut sampai sekarang. Ada yang kesulitan meneruskan penulisan tugas akhirnya karena daerah penelitian yang lockdown dan kesulitan menemui narasumber lapangan. Yang terbaru dan bikin patah hati ada yg telah terpapar dan sedang berjuang sembuh entah sendirian di kamar kos atau bersama keluarganya. Aku dan kawanku hanya bisa memberi semangat secukupnya sebab jelas tak mudah untuk tetap berpikir positif di hari-hari terakhir ini meski kami tahu api harapan tak boleh padam selama kami hidup.

Dengan tetap terhubung dengan orang-orang yang aku sayangi, memang tidak serta merta membuat kegundahan tamat, tetapi dengan bertukar kabar, cerita dan harapan dengan mereka sangat membantu untuk jeda sejenak dari kegaduhan pikiran dan perasaan sepi yang menusuk sukma.

 

Rencana

 Aku tidak begitu tahu apa rencana kawan-kawanku saat ini untuk bisa bertahan dengan waras, tetapi saat ini aku hanya ingin terus berlatih ikhlas bertani sementara di  kampung sampai akhirnya bisa berangkat ke sebuah pulau yg sudah menungguku, mengulik berbagai  peluang  untuk bisa berkarya dan sebisa mungkin mendapat manfaat dengan kerja jarak jauh, terus setia  mengolah makanan pangan yang sehat dan beragam, mencoba belajar ekofeminisme bersama Ruang Baca Puan lagi serta menunggu jadwal vaksinasi dosis ke dua pertengahan Juli nanti.

 

Rasa sepi  dan keadaan finansial yang tidak baik-baik saja semoga tidak bertambah buruk, sebaliknya semoga harapan di hati kawan-kawan dan keluargaku tetap menyala. Aku ingin berjuang sehari demi sehari, senafas demi senafas seperti Kalis Mardiasih katakan dalam sebuah tulisannya di Mojok.co , karena aku masih ingin bertahan lebih lama lagi bersama keluarga, sahabat yang kukasihi dan semua orang yang berjuang saat ini. Semoga kita semua selamat dan sehat belaka. Body and soul.

 

Ditulis oleh; Dina Mariana Lumban Tobing


 

Related

Sastra 2584930367453968234

Posting Komentar

emo-but-icon

Kabar Terhangat

Situs Web PGI

Berita Terbaru

item