Dia yang Menolak Bungkam

Rumah Kita, 6 Juli 2021   “Aku tak mau kembali lagi ke tempat busuk itu! Tempat terkutuk! Teriak seorang perempuan dengan ekspresi marah...

Rumah Kita, 6 Juli 2021

 

“Aku tak mau kembali lagi ke tempat busuk itu! Tempat terkutuk! Teriak seorang perempuan dengan ekspresi marah yang tak mampu ia sembunyikan lagi. Wajahnya tiba-tiba memerah, matanya berkaca-kaca dan kedua kakinya gemetar.

Perempuan  bertubuh mungil bak remaja Sekolah Menengah Pertama, kulitnya berwarna sawo matang, dan rambutnya panjang bergelombang, terdapat lekuk kecil di pipi kanannya setiap kali dia tersenyum, orang-orang biasa menyebutnya lesung pipi. Dialah perempuan yang dengan lantangnya berorasi saat matahari sedang terik-teriknya, manakala kobaran api dari ban yang dibakar sedang merah-merahnya di tengarai semangat akan perubahan yang kian membara dari peserta aksi mahasiswa hari itu.

“Kami mendesak negara segera cabut undang-undang yang menindas kaum buruh! Betul tidak kawan-kawan?!”, teriak perempuan itu melalui pengeras suara. Begitulah pemandangan beberapa saaat lalu sebelum ia menjadi salah satu korban penangkapan aktivis pada tanggal 1 Mei di Kota Medan.

***

Dia menangis tersedu-sedu di gang kecil tempat kami dikepung, dipaksa jongkok lalu dipaksa mengakui apa yang tidak kami lakukan. Siang itu dia mengenakan hoodie berbahan katun berwarna hijau lumut yang tampak kebesaran untuk tubuh mungilnya, celana jeans berwarna hitam pudar yang juga tampak kebesaran, terlihat tali sepatu terlilit di pinggang celananya sebagai pengganti tali pinggang, ditambah sepatu kets berwana hitam putih yang sudah mulai lusuh menambah kesan tomboy dan menarik.

“Jangan pakai kekerasan lah, Pak!”, katanya dengan lantang kepada aparat yang memukul  jidat kawannya menggunakan Handie Talkie (HT) hingga bocor. Air matanya mengalir deras membasahi pipi kiri dan kanan. Dia sibuk menangis sambil menutup luka kawannya menggunakan telapak tangannya. Berharap darah berhenti mengalir, dia tidak mengetahui bahwa yang dilakukannya hanyalah kesia-siaan. Darah tetap mengalir dengan deras dan berserakan di hoodie, celana dan telapak tangannya.

“Kami hanya demonstrasi, membantu kaum buruh menyuarakan hak-haknya, menyuarakan kegelisahannya.”, katanya lagi dengan suara parau.

“Diam kau! Jongkok kau disitu! Kau yang orasi tadikan?!”bentak aparat sambil menjambak rambut hitam panjang perempuan itu.

Aku hanya diam dengan penuh kemarahan melihat perempuan itu diperlakukan kasar oleh aparat. Diam adalah pilihan yang paling aman saat itu. Aku tak mau jidatku bocor seperti jidat lelaki yang sedang ditangisi perempuan itu. Aku hapal betul bagaimana kelakuan aparat terhadap demonstran. Selalu menggunakan kekerasan. Aku sudah sampai pada tahap menganggap bahwa aparat tidak pernah terlepas dari sifat mengekang dan menindas.

***

Setengah jam mereka menginterogasi, membentak  dan memaki kami di gang sempit. Kemudian mereka merampas handohone kami lantas membawa kami ke markas mereka dengan mobil polisi. Kami diperlakukan seperti orang yang layak ditahan di markas itu.

Kecemasan menguasi perempuan itu. Dia tampak gelisah di dalam mobil dinas, mobil yang dibeli menggunakan uang pajak yang rutin dibayar oleh orang tua kami. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan jendela mobil, sesekali melihat kebelakang, ingin tau sudah seberapa jauh perjalanan yang ditempuh mobil mewah saat itu.

 “Kita akan baik-baik saja”, kataku mencoba menenangkannya. Hanya upaya itu yang bisa kuberikan untuk membantunya bebas dari perasaan itu, sebab untuk mengatasi kecemasan dan kegelisahannya berada di luar kendaliku, berada di luar kekuasaanku. Hanya dia lah yang mampu mengendalikan perasaan cemas dan gelisahnya itu. Hanya perempuan itu.

Tapi, upayaku tidak menghasilkan sesuatu yang berkembang. Dia hanya menatapku sekilas dan kembali sibuk dengan kecemasannya, kembali sibuk dengan darah yang mengalir dari jidat lelaki yang juga berambut gondrong itu. Terlihat air mata yang tadi membasahi pipi telah mengering dari wajahnya yang sendu itu. Setengah jam di dalam mobil dinas polisi itu terasa gerah sekali. Tekanan mental tak terhindari lagi.

***

“Turun kalian semua! Macam uda hebat kali kalian demo-demo!”, kata seorang laki-laki separuh baya sambil membuka pintu mobil dinas polisi, laki-laki yang telah menunggu di tempat yang mereka sebut markas itu. Laki-laki yang hampir setengah rambutnya berwarna putih, perutnya menggelembung, menggunakan seragam polisi dan sepatunya hitam mengkilat.

“Satu, Dua, Tiga, Empat, ada Lima orang. Kurang ajar kalian!”, bentaknya sehingga membuat si perempuan bertubuh mungil terkejut. Kami disuruh berbaris dan dibentak satu persatu. Sejauh ini aku masih belum memahami mengapa polisi gemar membentak dan melakukan kekerasan kepada sipil, atau mungkin karena saat pendidikan mereka diperlakukan dengan cara yang sama atau barangkali mereka telah menganggap dirinya dewa.

Rangkaian kegiatan yang menyebalkan diterapkan kepada kami mulai dari berbaris dan berdiri tegak. Dipotret puluhan kali. Dipaksa masuk ke ruangan tempat para kriminal dan barang bukti kejahatan dikumpulkan. Kami diinterogasi berjam-jam.

Perempuan itu sudah mulai mematuhi setiap perintah dari aparat. Disuruh berdiri dia berdiri, disuruh duduk dia duduk, disuruh jalan dia jalan, disuruh berbicara dia berbicara, disuruh diam dia diam, disuruh kencing dia kencing. Mungkin dia sudah sampai pada pemahaman bahwa tidak ada gunanya melawan di tempat itu. Melawan di tempat itu akan tetap kalah, melawan akan ditukar dengan luka fisik sebab agaknya para aparat merasa mereka boleh berlaku seperti itu sesuai dengan selera mereka.

“Sepakat bahwa aparat adalah keparat”, dia berbicara pada dirinya sendiri.

***

Enam jam lamanya diinterogasi membuatku merasa bosan sekali. Pertanyaan yang diajukan interogator sangat tidak berkualitas dan berulang-ulang. Pertanyaanya seputar siapa yang mengajak? Siapa ketua aliansi? Siapa saja yang terlibat? Siapa si A? Siapa si B? selalu siapa, siapa dan siapa. Nafsu ingin menangkap seluruh mahasiswa yang terlibat demonstrasi benar-benar tidak bisa mereka kendalikan lagi.

Mereka mengutak-atik isi handphoneku dan membaca seluruh pesan di whatsapp, instagram, facebook dan telegramkuMereka mengambil nomor telepon kawan-kawan yang berhasil kabur saat barisan massa aksi kami direpresi. Kecemasan pun hadir, kepalaku bertanya-tanya tentang keberadaan kawan-kawanku.

Jarum jam mengarah pada pukul setengah sepuluh malam. Kehausan dan kelaparan itulah yang menjadi masalah baru. Ditangkap dan tidak diberi minum dan makan. Disuruh jalan jongkok membuat kakiku bertambah keram karena sejak siang sudah berjalan longmarch sekitar 2 kilometer ditambah berlari ketika dikejar-kejar intel dan polisi.

Malam itu, malam yang dingin dan sunyi di pojok ruangan kotor aku ingin menagih janji solidaritas. Aku dan beberapa kawan-kawan laki-laki yang ikut ditangkap menunggu dijemput kawan-kawan yang bebas menghirup udara di luar markas ini. Sejak sore sekitar pukul empat subuh, laki-laki dan perempuan yang ditangkap dipisahkan. Tidak tau apa alasannya. Yang jelas, aku dan perempuan bertubuh mungil itu diinterogasi di ruangan yang berbeda. Aku yakin mereka para perempuan diperlakukan dengan cara yang sama.

Mengkhayal. Tak ada yang bisa dilakukan selain mengkhayal atau sesekali bercerita dengan kawan-kawan laki-laki yang juga ditangkap. Laki-laki yang bocor jidatnya berbagi cerita tentang latar belakangnya. Darah sudah berhenti mengalir dan sisa-sisa darah sudah mengering di sekitar luka, jaket dan celananya. Bau amis sisa-sisa darah tercium menyengat sekali.

Laki-laki yang rambut gondrongnya diikat kebelakang itu terlihat lesu karena kehabisan banyak darah. Ia bercerita kronologis penangkapannya yang lebih dramatis daripada penangkapanku. Aku ditangkap karena tidak punya kemampuan yang baik untuk berlari cepat, langkah kakiku pendek dan aku cenderung mudah lelah. Melihat postur tubuh laki-laki berjaket coklat itu yang tinggi, tegap dan berisi membuatku tidak percaya dia tertangkap karena tidak  mampu berlari lebih cepat dari polisi dan para intel yang mengejar siang itu.

“Aku tiba-tiba lemas, kehilangan semangat dan mendadak langkah kakiku bergerak lambat melihat pimpinan organisasi kami jatuh dan ditarik polisi tadi”, kata laki-laki itu.

Benar adanya, dia ditangkap karena melihat pimpinannya terjatuh ketika berlari. Perempuan bertubuh mungil, dia lah pimpinan yang dimaksud. Perempuan yang menjadi pimpinan salah satu organisasi mahasiswa sayap kiri di Kota Medan.

Bercerita dengan kondisi mental yang tidak stabil, lapar dan haus benar-benar menguras energi. Badan, pikiran dan mental benar-benar sedang kelelahan dan memerlukan pengisian energi untuk tubuh dan jiwa.

Tiba-tiba polisi datang membawa bungkusan nasi dan air minum titipan kawan-kawan dari luar kantor polisi. Kami ditunggu puluhan kawan-kawan dan bantuan hukum di luar, kawan-kawan patungan untuk membeli makan dan minum kami. Aku terharu. Kami makan dan minum dari uang cari kolektif bukan dari uang kepolisian.

***

Pukul 1 pagi, kami para aktivis yang ditangkap digabungkan di ruangan kotor yang sedikit lebih besar dari tempat sebelumnya, ruangan yang di atas pintu masuknya tertulis “RUANG ORANG-ORANG KRIMINAL”. Laki-laki dan perempuan, kami semua digabungkan. Aku melihat perempuan bertubuh mungil itu tertidur pulas di atas lantai keramik berwarna putih. Tanpa tikar atau bahkan tanpa karton. Ia pasti sangat kelelahan, terlihat dari tidurnya yang pulas.

Waktu berjalan merangkak maju dan kami tak juga dibebaskan. Suasana menjadi sedikit cair, di ruangan yang disebut tempat para kriminal itu kami menertawakan keadaan bersama-sama dan membuat perempuan bertubuh mungil itu terbangun dari tidurnya.

“Dari banyaknya sabtu malam yang telah kulewati, sabtu malam kali ini yang paling kelam”, katanya spontan. Kami semua diam sekaligus terpesona pada kalimat padat yang diucapkannya.

“Ini akan jadi pengalaman yang luar biasa untuk gerakan yang lebih masif lagi”, terdengar suara sumbang dari salah satu rekan mahasiswa yang juga ditahan.

Barangkali pada setiap situasi  seperti itu selalu saja ada sosok motivator terselubung yang berguna untuk menjaga semangat. Ada pula sosok penghibur, tidak lelah mencari bahan candaan untuk dikonsumsi bersama. Sisanya adalah sosok-sosok yang selalu gelisah dan yang berusaha untuk tenang. Desas-desus dibebaskan malam itu hanya menjadi bahan tertawaan, menandakan ketidakmungkinan meskipun beberapa tahanan menganggap desas-desus itu sebuah kemungkinan yang layak dipercayai.

Hari semakin pagi, harapan akan dibebaskan malam itupun menguap. Kami memilih tidur di ruangan itu, masih tanpa alas dan tanpa selimut. Kami tidur berjejer dan bersempit-sempitan di atas lantai yang dingin. Kami menghadapi malam kelam itu bersama-sama.

***

Pukul 7 aku terbangun karena silau sinar matahari pagi dari jendela ruangan itu tepat mengenai wajahku yang berminyak. Matahari hari Minggu menggantung rendah di balik jendela kaca setengah terbuka yang berdebu. Terbangun dari tidur tanpa mimpi. Kudapati beberapa kawan-kawan yang tidak mampu terpejam karena cemas, takut dan kedinginan. Kami semua dihantam kebosanan sebab di tempat itu tidak ada buku yang bisa dibaca, yang ada hanyalah beling-beling kaca, paku-paku, ban-ban bekas, bensin, spanduk-spanduk, dan berbagai macam barang bukti tindakan yang mereka anggap kriminal.

Aku melihat banyak tikus, kecoak, nyamuk berkeliaran kupilih  kembali mengkhayal, bertanya-tanya pada diri sendiri perihal kapan kami dibebaskan dan tentu saja tidak ada jawaban. Tidak jauh dari tempat aku duduk mengkhayal, perempuan bertubuh mungil juga sedang mengkhayal, bola matanya melihat jauh ke depan menatap kosong pintu ruangan tempat kami semua bermalam, keinginan untuk menetralkan resahnya pun hadir. Aku penasaran setengah mampus tentang apa yang ada di pikirannya. Aku penasaran pada seorang pimpinan perempuan itu. Aku lelaki yang ingin mengenalnya dan ingin menantang segala kecerdasannya.

Satu persatu kawan-kawan bangun dari tidurnya yang kurang dari 8 jam saat itu, terbangun dari tidur yang tidak nyenyak karena tekanan yang ada.

***

 “Kalian akan dibebaskan siang ini dengan syarat menandatangani surat perjanjian dan keluarga kalian harus mengetahui kelakuan bodoh kalian ini. Kalian bisa bebas jika dijamini keluarga”, kata seorang laki-laki berkaos oblong berwarna putih polos. Aku tidak tau apa jabatannya di markas mereka itu. Kupikir, jabatannya termasuk penting sehingga semua aparat di markas menunggu dia memutuskan keputusan besar itu sejak sabtu malam.

Rasa senang bercampur takut mendadak mendarat di pikiran kami.  Beberapa kawan-kawan memiliki ketidaksiapan jika keluarga mengetahui peristiwa penangkapan saat itu, tapi beberapa kawan yang lain masih bersikap tenang atau bahkan berpura-pura tenang, aku tidak tau pasti.

“Sial! Jangan sampai keluargaku tau kalau aku ditahan disini”, kata seorang perempuan berambut pirang yang juga ditahan sejak hari sabtu itu.

“Kalau bapakku tau, bisa struk mendadak dia.”, berang laki-laki bertubuh kurus dan tinggi, berambut semi gondrong, laki-laki yang sejak sabtu malam tidak mau diajak berbicara dan bercanda.

Perempuan bertubuh mungil juga tampak gelisah mengetahui informasi terbaru itu. Sedangkan aku, masih tetap tenang. Aku sama sekali tidak takut jika pihak kepolisian menghubungi keluargaku. Ibu dan Bapak sudah lama tau bahwa aku aktif di salah satu organisasi mahasiswa dan sesekali ikut demonstrasi. Ibu dan Bapak sudah memaklumi aktivitas politikku sebab Ibu dan Bapak sepakat pada kebebasan berekspresi.

***

Siang itu, satu persatu kami yang dianggap kriminal dibebaskan dan dijemput keluarga atau kerabat masing-masing, begitupun aku. Handphone kami yang ditahan dikembalikan dengan kondisi yang berbeda, semua barang bukti represifitas aparat saat kami demonstrasi dihapus. Kami disuruh menandatangani sebuah surat perjanjian untuk tidak terlibat demonstrasi lagi. Surat yang isi tersiratnya bahwa kami harus diam dan duduk manis di bangku kuliah dan tidak perlu mengkhawatirkan kondisi rakyat yang kami yakini sengaja dimiskinkan negaranya sendiri dengan berbagai kekerasan yang kotor lagi korup.

Keluar dari tempat itu kami langsung bersalaman dan berpelukan dengan kawan-kawan yang menunggu di depan kantor polisi sejak sabtu malam. Bibir sudah dengan ikhlas membentuk senyuman walaupun mental belum sepenuhnya stabil.

“Panjang umur perjuangan! Panjang umur solidaritas!”, teriak kawan-kawan dengan lantang sambil mengangkat tangan kiri yang dikepal, seakan-akan meninju langit.

Aku melihat perempuan bertubuh mungil itu sedang berbincang bersama kerabatnya tepat di depan kantor polisi saat itu. Aku menemui perempuan itu bermaksud untuk berkenalan atau hanya sekedar memberikan semangat. Aku disambut dengan wajah yang tampak marah dan penuh dendam itu.

Dia mengulurkan tangan kanannya yang dingin dan berkata dengan tegas “Namaku Atenk, 24 jam di dalam tempat busuk itu tak akan berhasil membuatku bungkam. Aku akan tetap turun ke jalan lagi. Aku akan membela rakyat dengan segala kekuatanku. Sekali lagi kukatakan bahwa mereka gagal membungkam aku. Aku akan latihan berlari sebab aku tak mau kembali lagi ke tempat busuk itu. Ke tempat terkutuk itu.”

“Sudah jangan marah-marah, kan kita sudah bebas.”, kataku sambil tersenyum berharap upayaku menenangkannya sekali ini tidak gagal lagi.

Dia membalas senyumanku itu, manis sekali.

“Iya, kita sudah bebas. Tapi jangan lupa bahwa kita kalah, kita gagal menjemput revolusi. Kita orang bebas, kita telah mendapatkan kembali mahkota hidup kita sebagai manusia, kita perlu dan boleh berharap kemenangan di hari depan.”, pungkasnya dengan bijaksana.

Kedua matanya tampak sembab, ada harapan yang besar akan perubahan di balik sorot mata yang basah itu. Sepakat pada Pramoedya Ananta Toer bahwa harapan hanya milik manusia bebas. Aparat berhasil menangkapnya beberapa hari lalu, tapi jelas gagal membungkam perempuan mungil yg kini kutahu namanya Atenk.

*** Oleh Romian Siagian (Perempuan yang akan selalu belajar)

 

 


Posting Komentar

emo-but-icon

Kabar Terhangat

Situs Web PGI

Berita Terbaru

item