Makanan Rumahan dan Rindu Yang Tak Tersandarkan

Rumah Kita (Palu, 23/5/2020) Saya adalah satu dari jutaan perantau yang memilih satu-satunya pilihan masuk akal di masa pandemi ini: men...

Rumah Kita (Palu, 23/5/2020)


Saya adalah satu dari jutaan perantau yang memilih satu-satunya pilihan masuk akal di masa pandemi ini: menetap di perantauan demi keselamatan diri dan keluarga tersayang. Saya bekerja di sebuah lembaga non pemerintah yang berfokus pada isu kesehatan secara holistik di Sulawesi Tengah. Saya sudah di kota Palu sejak penghujung tahun 2018. Yayasan menjamin biaya cuti pulang kampung tiga kali dalam setahun bagi semua staff dari luar Pulau Sulawesi, kebijakan itu tidak pernah dilanggar manajemen.

Mei awal seyogianya saya bisa cuti ke Sumatera Utara namun pagebluk Corona telah mengubah semua wajah dunia termasuk segala program dan perencanaan yang tak terkira jumlahnya. Saya memahami virus ini seperti pembunuh berdarah dingin yang menyukai keramaian dan ketidaktertiban sehingga di mana ada keramaian di sanalah ia beraksi tanpa peringatan. Itu sebabnya kalangan ahli, para pakar kesehatan dan pemerintah sudah sejak April 2020 mengingatkan kita seluruh warganya untuk menghindari keramaian, kemana-mana pakai masker, rajin cuci tangan pakai sabun dan air mengalir serta sedapat mungkin makan dan istirahat yang cukup sehingga sistem imun kita terjaga dan tak gentar melawan virus yang sudah menelan 1000 nyawa anak bangsa. Pilihan untuk tak bepergian termasuk untuk pulang kampung saya resapi sebagai pilihan paling masuk akal dan anti egoisme terlebih karena saat ini keadaan kami di Palu masih stabil.

Tetapi manusia adalah entitas rumit nan kompleks,bukan? Penjelasan logis meski dapat diterima namun perasaan rindu tidak selalu dapat ditertibkan dan tak pula kuasa diabaikan begitu saja. Selama pandemi ini saya lebih banyak memasak makanan sehat untuk saya sendiri. Praktis sudah dua bulan ini benar-benar memperhatikan makanan yang saying konsumsi karena tujuan saya adalah saya harus sehat hingga akhirnya boleh pulang dan bertemu keluarga di kampung halaman. Sekali seminggu untuk menghalau kebosanan biasa saya memikirkan akan membuat makanan selingan yang baru.

Hari ke duapuluh tiga di bulan Mei ini, sembari menikmati rasa nyeri di sekujur tubuh karena sedang menstruasi saya tiba-tiba terpikir makanan rumahan yang biasa kami olah bersama Mamakku. Sudah lama sekali. 20 tahun yang lalu. Ongol-ongol, limi-limi, cendol, onde-onde dan wajik adalah makanan yang selalu ada di rumah kami secara bergantian saat kami masih sekolah di SD.

Biasanya Mamakku membuatnya di malam hari, tentu saja memaksaku terlibat. Aku teringat bagaimana aku sering terkantuk-kantuk mengaduk adonan ongol-ongol  saat Mamak memarut kelapa sementara tiga laki-laki di rumah kami sibuk tidur atau bermain-main di ruang depan. Esok paginya segala kesuntukan tadi malam hancur dan terlupakan demi menikmati bancakan bikinan sendiri. Sambil menyesap teh manis, cemilan tanpa pewarna dan pengawet itu segera meluncur ke kerongkongan semua anggota keluarga.

Gambar: Penulis sedang menjelaskan prosesb pengolahan makanan berbahan pangan lokal di sebuah pertemuan di Sulawesi Tengah
Kredit foto: Manuel Gusman

Saya menjadi sangat emosional mengingat itu semua. Rindu kepada Mamak dan rumah semakin membuncah namun kusadari tak akan bisa kusandarkan karena situasi sulit saat ini. Rasanya ingin segera bisa pulang dan sama-sama membuat penganan rumahan itu lagi dengan Mamak dan menikmatinya bersama keluarga. Tapi jalan masih panjang agaknya. Alih-alih mengolah camilan yang kurindu itu, saya memilih menuliskannya terlebih dahulu. Mengabadikan kenangan, mengingat-ingat rasa yang pernah memanjakan lidah dan menenangkan diri dengan guritan ini. Mungkin setelah gajian, aku akan membuka youtube dan mencari tahu bahan dan cara membuat semua makanan itu untuk mengolah dan menikmatinya kemudian, ditemani rindu kampung dan semua kenangan yang ternyata sungguh mahal dan tidak dapat dibeli di e-commerce manapun.




Posting Komentar

emo-but-icon

Kabar Terhangat

Situs Web PGI

Berita Terbaru

item