LEBARAN: BUKAN AJANG BERBURU KETUPAT BELAKA

Rumah Kita (25/5/2020) “Dina….” “Ya??” “Ikut, nggak?” “Ikuutt.” Percakapan itu menandai hari ini akhirnya aku memutuskan iku...

Rumah Kita (25/5/2020)



“Dina….”
“Ya??”
“Ikut, nggak?”
“Ikuutt.”

Percakapan itu menandai hari ini akhirnya aku memutuskan ikut berkunjung ke kader kesehatan di dua desa di Kabupaten Sigi. Kunjungan hari raya. Kemarin aku memutuskan tidak ikut mengunjungi enam desa sekaligus sebab rada takut bisa berpeluang tertular atau menularkan covid-19 yang semakin masif saja sepak terjangnya di bumi Nusantara; selain itu aku memang sedang tidak merasa nyaman dengan tubuh sendiri karena siklus bulanan. Jadi, aku menolak ajakan kawan-kawan sekantor dengan tegas tanpa penyesalan. Hari ini memutuskan akan ikut karena rasanya sayang melewatkan suasana dan kue lebaran di Sulawesi Tengah. Dua kali berturut-turut. Tahun lalu pun aku tidak ikut berkunjung karena lagi-lagi siklus bulanan.

Kami tiba di rumah seorang kader andalan kami. Perempuan usia empat puluh dua (42) tahun dengan daster dan dandanan yang cerah seperti biasa menyambut kami. Ia masih di hunian sementara seadanya yang ia dirikan bersama komunitasnya. Rumahnya habis diseret likuefaksi pada bencana Sulawesi Tengah September 2018. Tidak kurang dari dua puluh kandang burung berpenghuni Tekukur mengelilingi rumahnya, digantung di sekeliling atap rumahnya.
Menjajal Kelapa Muda adalah Jalan Ninjaku (Kredit Foto: Sulis)


Setelah menangkupkan tangan di dada kami masing-masing dan mengucapkan Minal Aidin Walfaidzin, ia mengundang kami duduk di atas dipan beralas ambal merah marun yang tebal dan hangat. Ruangan itu sungguh panas meski pintu depan dan dapurnya terbuka da serta kipas angin yang tak lelah berputar. “Suami lagi di rumah mertua,” katanya memberi informasi agar kami tidak bertanya-tanya mungkin.

Ia menyuguhi kami pilus jagung, kacang tepung dan stick pedas; tak lupa cocacola. Aku  berpikir sejenak sebelum memutuskan mencicipnya. Mengingat semua bahan makanan itu berpotensi membuat lambungku meraung, aku sempat ragu tapi kemudian aku ingat hidup toh harus dinikmati. Lagian aku bukan hendak memakan sekarung camilan ini pula. Yang lebih penting aku tidak mau kena Salora (Pamali bila tidak mencicipi jamuan tuan rumah yang sudah disajikan:red). Maka mulailah aku mengunyah pilus jagung sambil bergabung dalam obrolannya dengan manajer kami.

“Saya itu sibuk tiap hari,Pak. Karena saya guru PAUD dan masih kuliah mau masuk semester enam tapi orang desa gak ada yang tahu saya kuliah lagi. Saya memang diam-diam, biar jo”, Ibu Zaitun mulai bercerita. Saya hikmat mendengarkannya. Lalu entah bagaimana terjadi perputaran plot dalam ceritanya. Ia kini bercerita tentang kegelisahan sekaligus kekesalannya pada puskesmas setempat.

“Saya sudah data ada 20 bayi balita yang sudah seharusnya diimunisasi sejak April tapi sampai sekarang puskesmas tidak melakukannya. Alasannya karena Covid-19 padahalkan sudah ada surat edaran dari  pusat imunisasi bayi balita tetap harus dilakukan dengan home care (kunjungan ke rumah:red). Desa sebelah jalan kok imunisasinya kenapa desa kami tidak? Ini karena bidannya dilarang kepala puskesmas katanya,Pak Bagaimana sudah ini? Kalau bayi balita kami jadi tidak kebal imunnya karena terlambat imunisasi bagaimana? Saya sudah dua kali ke puskesmas mau ketemu dokter tapi selalu dia tidak ada.”

Aku mulai mengecek kontak-kontak para ASN di Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah. Aku akan membantu advokasi dengan komunikasi dengan para pejabat yang kerap kami undang membuka kegiatan-kegiatan kami tahun lalu. Kekhawatiran ibu ini sangat masuk akal, kamipun sudah dua kali melakukan koordinasi dengan kepala puskesmas itu tetapi tetap saja dia keukeuh menolak melakukan imunisasi tanpa penjelasan yang bisa diterima akal.

“Kalau begitu coba ibu langsung bicara ke kepala desa agar kepala desa menyurati puskesmas langsung, lampirkan dua puluh nama bayi balita beserta orangtuanya di dalam surat itu nanti. Saya yakin bila sudah begitu akan direspon, namun bila tidak ada respon positif juga kita bisa menggertaknya dengan bicara ke Dinkes Kabupaten”, jawab manajerku. Bantuan yang sangat birokratif dan efektif sepertinya. Mengingat banyaknya pejabat Negara yang hanya takut pada atasan tapi memandang rendah tuan yang sebenarnya:rakyat.
***
Berikutnya kami akan ke desa tetangga. Diam-diam aku mengharap akan ada ketupat ketan seperti yang biasa ada di Sumatera Utara. Sesungguhnya kami juga biasa menemui ketupat di sini tetapi bahannya beras biasa dan tidak ditanak dengan santan. Jatuhnya, ya seperti lontong saja. Kedaginganku mengharap akan mendapat makanan dengan rasa Medan di sebuah desa yang berada di kawasan Sulawesi Tengah. Terasa berlebihan tetapi keinginan daging memang kerap tidak tertib, bukan?

Kami tiba di rumah ibu Sulis (35). Begitu tiba di halaman saja aku sudah merasa tenang, damai dan romantis. Pohon Kersen yang rindang  di tengah halamannya siap menampung siapa saja yang gundah sebab ada kursi panjang di bawahnya. Ratusan pohon kelapa di sana-sini bergoyang diterjang angin kencang.

Jejeran pot berisi sayuran dan puluhan tanaman obat menghiasi rumah Ibu Sulis. Ia menjelaskan manfaat semua tanaman itu kepada kami. Kunyit, Jahe, Mengkudu, Kersen, Sambiloto, Jintan, Keca Beling, Daun Ungu, Kayu Merak hingga Lidah buaya berdiri gagah di halamannya. Ia menyiapkan kue bawang dan kue mentega serta sirop jeruk ABC dari kulkasnya. Terasa segar. Segera aku membenamkan nafsu mencari ketupat. Ibu Sulis pamit sebentar tiba-tiba, kami ditemani ibu Nilam.

Tujuh menit kemudian Ibu Sulis datang dengan seorang laki-laki. Aku kira suaminya. Laki-laki itu mulai memanjat pohon kelapa dan menjatuhkan 10 butir kelapa muda. Kami langsung bubar dari pembicaraan seputar pekerjaan dan bergabung dengan Ibu Sulis di bawah pohon Kersen. Degan mulai dilobangi aku sangat riang aku orang pertama yang dapat bagian sebutir kelapa muda. Kami menyantapnya, kami duduk mengelilingi pohon kersen setinggi empat meter nan rindang itu.

Aku mulai mengobrol sekenanya dengan Ibu Sulis. “Kenapa Ibu suka menanam tanaman obat di pekarangan, Ibu?”

“Saya ini tidak punya anak, Din. Saya sudah berusaha minum obat dari dokter hingga obat tradisional tapi sepertinya Allah belum kasih kesempatan barangkali.”

Aku belum menangkap hubungan pertanyaanku dengan jawabannya.

“Sebagian dari tanaman obat itu ada yang berguna untuk meningkatkan kesuburan, melancarkan ASI, obat luka bakar dan obat demam untuk anak-anak. Banyak sudah orang tua yang tertolong karena tanaman saya ini. Mereka datang meminta sedikit untuk dipakai obat. Saya mungkin tidak akan punya anak meski saya ingin, tapi saya akan tetap turut merawat anak-anak di desa ini dengan menanam tanaman obat di pekarangan. Orang tua bayi-balita banyak yang tidak mengerti atau bahkan tidak mau meniru apa yang sudah saya katakan berkali-kali kepada mereka di Posyandu. Biar saja. Saya senang bisa membantu anak-anak itu agar sehat-sehat”.

 Hening.

Karena angin semakin kencang dan sepertinya segera akan hujan, kami pamit pulang. Sepanjang perjalanan menuju Kota Palu aku merenungkan kunjungan lebaran pertamaku di Sulawesi Tengah ini. Aku memang tidak menemukan ketupat tetapi aku merasa terhormat duduk di rumah dua perempuan yang mendedikasikan dirinya untuk kepentingan masa depan orang lain (bayi-balita). Polos, tulus dan lugu. Bahkan menikmati kudapan terbaik yang mereka punya. Lebaran memang bukan sekedar berburu ketupat. Terlebih di masa pandemi ini, lebaran terlihat dan terasa hening sekali. setidaknya di dua desa yang aku kunjungi tadi. Suasana hening itulah yang menghantarku pada teguran tulisan ini. Bersyukurnya aku hari ini. Lebaran yang tidak mungkin bisa diulang lagi. ***


Dina Mariana Lumban Tobing







Related

Terkini 485069114780285783

Posting Komentar

emo-but-icon

Kabar Terhangat

Situs Web PGI

Berita Terbaru

item