Pemilik WARNET yang Baik Budi

Rumah Kita Mentari pagi sudah keluar dari persembunyiannya saat aku terjaga dari tidur, cahanya yang merekah indah menyinari alam ya...

Rumah Kita




Mentari pagi sudah keluar dari persembunyiannya saat aku terjaga dari tidur, cahanya yang merekah indah menyinari alam yang sejuk. Aku bereskan tempat tidurku  lalu aku masuk ke kamar mandi dan langsung mengguyur tubuhku dengan air dingin segar yang membersihkan dan menyegarkan tubuhku. Setelah itu aku menghias diriku dan mengenakan  kaos putihku dan celana pendek  krem lalu menikmati  sarapan pagi yang telah dimasak oleh sahabatku. 

            Mentari pagi mulai meninggi, jarum jam sudah menunjukkan pukul 08.00wib, sejenak aku mengurung diri di kamar  untuk mengerjakan tugas kuliahku membuat makalah  Curriculum Material Development. Aku ingin hari ini semua tugas kuliah yang sudah menumpuk tuntas terbayar lunas.  

            Dengan serius aku membahas soal demi soal sambil membolak-balikkan diktat untuk mencari jawaban, sebahagian soal sudah terjawab namun ada beberapa lagi yang pembahasannya harus diambil dari internet. Aku meninggalkan kamar dan bergegas menuju sebuah Warung internet yang terletak 10 meter dari rumah kost saya.

            Saya memasuki warung internet  yang berukuran 6x4 meter , disana  terdapat beberapa meja  tempat komputer dan perangkat-perangkatnya  serta  kursi plastik untuk tempat  duduk orang – orang yang ingin mengakses internet  dan bermain games. Terlihat juga  anak-anak  yang menggunakan seragam sekolah sedang asyik bermain games. Pemandangan  yang seperti biasa  saya temukan di setiap warnet yang pernah saya singgahi baik di Sidikalang ataupun di Medan  selalu dipenuhi anak –anak sekolah.Pemandangan itu membuat hatiku geram dan marah karena pagi-pagi sekali anak-anak sekolah dengan memakai seragam sudah bermain games di warnet.

            Dengan menahan rasa marah dihati, Saya  menghampiri  seorang laki-laki tua yang duduk dibagian depan warung tersebut, laki – laki yang memakai baju putih dan celana pendek hitam dan berkacamata  itu tersenyum ramah kepada saya, dia adalah pemilik warnet tersebut.

 “ ada yang kosong pak “ tanyaku , pemilik warnet itu mengangkat kepala dan menatapku  “ com 1 nak” jawabnya. Saya berjalan menghampiri meja pertama , saya menarik kursi dan duduk  lalu menekan tombol CPU untuk  menghidupkan komputer.
Di sebelah kanan saya  duduk seorang anak laki –laki yang masih sangat muda dengan menggunakan seragam pramuka yang asyik bermain games.  Dengan menebarkan senyum indah saya menegurnya “ adek tidak sekolah ya?”  dia menoleh kepadaku, dengan senyum mungilnya dia menjawab “ saya masuk siang ibu “. kuanggukkan kepalaku, aku paham dia cepat datang dari rumah untuk bermain games menunggu waktu masuk sekolah tiba, dalam hati saya timbul pertanyaan apakah orangtuanya tidak tahu dia masuk siang, sehingga dia bisa cepat berangkat dari rumah “?

Aku menoleh kembali ke komputer yang ada dihadapanku, dengan cepat jemariku langsung menarinari diatas keyboard komputer tersebut, aku membuka situs google lalu mengetikkan huruf demi huruf hingga menjadi kalimat lalu aku mengklik tanda pencarian. Dengan cepat internet bereaksi dan langsung menyediakan situs yang kubutuhkan. Aku menyalin  kalimat-kalimat yang kubutuhkan untuk bahan tugas kuliahku.

Ditengah keseriusan semua orang di warnet itu, aku melihat seorang anak dengan menggunakan seragam sekolah meminta kepada bapak pemilik warnet untuk menghidupkan komputer com 5 sembari memberikan beberapa lembar uang seribuan. Anak  itupun mulai sibuk bermain games setelah komputer yang dia minta dihidupkan. Sepuluh menit kemudian segerombolan anak – anak berpakaian pramuka datang dan melihat-lihat komputer, sepertinya mereka ingin bermain games juga layaknya anak – anak yang sudah asyik bermain games disampingku. Pemilik warnet menegur mereka, jangan  rebut adek – adek,  kalian sekolah dulu nanti baru kesini setelah pulang sekolah.”  “ jam 10nya kami masuk pak”  jawab mereka hampir bersamaan.   Mendengar jawaban itu saya menoleh kea rah jam yang tergantung di dinding, jarum menunjukkan pukul 09.55 wib. Pemilik warnet tetap memaksa mereka untuk keluar agar pergi sekolah tetapi mereka tetap mengelak dengan alasan pukul 10.00 Wib baru masuk.  Akhirnya Saya  beralih menoleh anak—anak yang berdiri di ruangan itu  “ini sudah pukul sepuluh dek, pergilah dulu sekolah, ntar terlambat lho” tuturku dengan senyum yang dipaksakan. Mendengar perkatanku mereka menatap satu sama lain sambil bersungut-sungut . melihat mereka masih bengong, pemilik warnet itu berkata dengan nada suara tinggi “kalian harus pergi sekarang nanti terlamabat, kalau tidak bawa kalian saja sekolah itu kesini, biar kalian bisa disini terus“, namun anak – anak itu tetap saja tidak perduli, mereka berharap akan diijinkan bermain games.

Dengan bersusah payah membujuk anak – anak itu akhirnya pemilik warnet  berhasil menyuruh mereka pergi sekolah. Hatikupun lega, namun tiba-tiba kesal lagi dikarenakan ada seorang anak yang masih tinggal dan asyik bermain games, dia anak yang duluan datang dari teman –temannya tadi.

Pemilik warnet menghampiri dia lalu menegurnya “sudah dulu ya nak, kamu sekolah dulu nanti sambung lagi setelah pulang sekolah, “.  Tanpa menoleh anak itu menjawab “ jam 10nya kami masuk pak “. Si pemilik warnet melihat ke komputer lalu menjawab anak itu “ 40 menit lagi waktumu untuk bermain games, nanti lanjutkan setelah pulang sekolah, “ sambil mematikan komputer tersebut lalu pergi duduk ketempat duduknya semula.  

Meskipun komputer sudah padam si anak masih tetap duduk di kursi itu sambil memandangi pemilik warnet itu, dia membujuk agar diberi waktu bermain, namun pemilik warnet tersebut tidak menghiraukannya. Pemilik warnet  memaksa anak itu untuk pergi sekolah dan akan mengijinkannya bermain games setelah pulang sekolah namun anak itu tetap mematung di depan komputer.

Dengan kesabaran yang sudah hampir habis, pemilik warnet menghampiri anak itu lalu dengan wajah tersenyum membujuk anak itu untuk sekolah “ nanti saya bisa dimarahi orangtua dan guru dan kamu bisa dihukum orangtua dan gurumu, kamu juga ketinggalan pelajaran “ sambil memegang tangan anak itu dan menuntunnya keluar dari warnet.  

Akhirnya anak itupun menurut , sambil melangkah dari warnet dia berkata “ 40 menit lagi nati aku main ya pak”  pemilik warnet menjawab “ ya nak”.


Melihat hal itu aku sedikit terharu dengan sikap pemilik warnet, meskipun setiap hari anak – anak memakai seragam sekolah bermain games disana tetapi paling tidak dia peduli dengan pendidikan anak – anak. Dia menganggap anak – anak itu seperti anaknya sendiri. Dia berusaha  mengajarkan kepada anak bahwa pendidikan atau sekolah itu lebih penting. Sikap bapak itu sedikit sudah mencerminkan perumpamaan Batak yang mengatakan si sada anak, si sada boru” yang artinya mendukung kesuksesan anak, tidak membiarkan anak melakukan kesalahan meskipun bukan anak sendiri .



Aku berharap semua pemilik warnet dimanapun dapat bersikap tegas kepada anak –anak sekolah dengan menerapkan perumpamaan batak yaitu menganggap anak itu anaknya sendiri dan peduli terhadap masa depan anak, agar pada saat jam sekolah tidak mengijinkan untuk bermain di warnet.   


Penulis adalah Sekretaris Cabang GMKI Sidikalang MB: 2015-2016

Posting Komentar

emo-but-icon

Kabar Terhangat

Situs Web PGI

Berita Terbaru

item