SUDAH BAYAR UANG KULIAH PLUS DENDA Rp 200.000,- TIDAK DIIJINKAN UJIAN AKHIR SEMESTER? WAJIB IKUT UJIAN SUSULAN DENGAN BIAYA RP 50.000/MATA KULIAH? SATU KATA: LAWAN!

Rumah Kita Salah satu Mahasiswa Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah, Medan sedang menyampaikan orasi politiknya di hadapan massa ak...

Rumah Kita
Salah satu Mahasiswa Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah, Medan sedang menyampaikan orasi politiknya di hadapan massa aksi dan beberapa Satpam Kampus di Gedung A, Jalan Garu II , Medan Amplas
Jumat, 13 Januari 2017 sekira pukul 15.00 wib s/d selesai


Hari ini saya harus menemani teman untuk menemui salah satu dosen Pembimbingnya di kampus tercinta Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah Medan sebagaimana telah menyepakati janji temu dengan beliau. “ Temui, Bapak setelah Sholat Jum’at” begitu pesan singkat dari Sang Dosen yang kami baca kemarin siang saat teman saya menelponi tetapi telepon tidak dijawabnya.

Sebagai Mahasiswa Tingkat Akhir yang baik, tentu saja kami tidak ingin “berulah” dengan Dosen Pembimbing sebab bisa kwalat nantinya. Saya dan beberapa teman akhirnya bersama-sama menemui Sang Dosen kesayangan di Kampus.  Kami ada empat sekawan yang kebetulan kos kami berdekatan di bilangan Garu III, Kecamatan Medan Amplas. Kami seluruhnya berbeda jurusan, beda agama, beda suku, beda pacar, beda makanan kesukaan tetapi kami punya satu misi:  Maret 2017 kami berempat harus didaulat menjadi Sarjana. Sederhana tetapi perjuangannya sangat menguras emosi, pikiran, tenaga dan rekening.

Setelah menunggu selama enam puluh menit, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun menelpon. “ Bapak di Lantai satu, datang kemari ya, Nak”, katanya lagi. Kami langsung berlarian menuju lokasi yang ditentukan, meski berbeda jurusan kami sudah sepakat akan saling menemani di detik-detik perjuangan akhir kami.

Mereka pun memulai diskusi yang terbuka. Mempertanyakan tentang apa alasan Universitas Muslim Nusantara Al-washliyah melarang kami mengikuti Ujian Akhir Semester, sebab kami telah membayar lunas uang kuliah meski terlambat, ditambah lagi uang sejumlah Rp 200.000,- sebagai denda atas keterlambatan kami mengisi KRS dan KHS Online, tetapi kami malah dipaksa mengikuti Ujian Susulan dengan ketentuan membayar Rp 50.000/ Mata Kuliah yang diujiankan. Bapak Dosen sekaligus Ketua Prodi ternyata terkejut dengan sistem yang tidak bijak bin menindas itu yang baru saja mereka paparkan itu.

Beliau menyarankan kami untuk menunut bagian administrasi/ keuangan kampus untuk segera memberikan Kartu Ujian kami, sebab tidak ada alasan untuk memaksa kami ujian susulan setelah kewajiban tersebut kami bayarkan. Karena Kampus yang bernuansa hijau ini memiliki tiga gedung yang berdekatan di lingkungan Garu II, Medan Amplas maka kami pun langsung menyewa becak  menuju kampus A sebab di Gedung A lah bagian Keuangan berkantor.

Tiba di kampus A kami terkejut bukan kepalang. Apa lacur? Kami melihat pertengkaran salah satu Staff Keuangan dengan seorang Mahasiswa. Perdebatan mereka alot sampai Si Mahasiswa merobek sebuah Kwitansi dan berteriak “ SAYA SUDAH BAYAR UANG KULIAH, KARENA TERLAMBAT ISI KRS ONLINE DENDA DUA RATUS RIBU JUGA SAYA SUDAH BAYAR, LALU KENAPA SAYA TIDAK DIIJINKAN UJIAN? MENGAPA DIPAKSA HARUS UJIAN SUSULAN YANG BAYAR LAGI LIMA PULUH RIBU RUPIAH PER MATA KULIAH? KALIAN PIKIR GAMPANG CARI DUIT?” Saya dan teman-teman kaget betul sebab Si Mahasiswa itu berdebat dengan Staff Keuangan yang harus kami temui pula. Jelas saja kami tidak tepat lagi bila bicara dengan Si Dosen ketika suasana tegang demikian.

Belum sempat menguasai kepribadian kami, kami telah mendengar suara lantang memakai Pengeras Suara, biasa kami sebut Toa menyanyikan “ Darah Juang” dan sekelompok Mahasiswa plus satu Mahasiswi berkerudung Krem persis di depan kantor Bagian Keuangan. Tanpa tedeng aling-aling kami langsung terhuyung-huyung mendekat ke titik kumpul itu. Mulai mendengar apa tuntutan yang disampaikan Sang Orator yang berbadan besar lagi gemuk itu.

“Kita sudah ditindas oleh rejim yang otoriter di kampus ini kawan-kawan, tidak ada lagi dispensasi bagi kita yang miskin. Tahun 2015 kita masih bisa ujian dengan dispensasi, yaitu surat ijin mengikuti Ujian Tengah Semester dan Ujian Akhir Semester meski kita belum lunas uang kuliah. Kawanku, lihat sekarang tiba-tiba kita dipaksa tunduk pada aturan yang disepakati sepihak oleh birokrasi kampus ini, tiba-tiba ada sistim KRS Online dan bila kita terlambat mengisinya, kita harus bayar denda dua ratus ribu rupiah, tidak hanya itu kita malah diwajibkan mengikuti Ujian Susulan dengan membayar uang sejumlah lima puluh ribu per Mata Kuliah. Bila sekarang kita diam, maka yakinlah besok-besok mereka ini akan menerbitkan peraturan yang lebih menindas lagi terus menerus, maka kita harus bersuara! Kita harus MELAWAN! Karena hal ini sama sekali bertentangan dengan semangat dan nilai-nilai Kealwashliyahan yang kita ketahui bersama. Ayahanda Warek II Universitas Muslim Nusantara harus berjumpa dan berdialog dengan kita, kita harus tahu apa persoalan di Kampus ini sehingga begitu banyak pungutan sejak semester ini! Sepakat Kawan-kawan?”

Kami merasa kami punya kawan sependeritaan, kami perhatikan pihak birokrat mulai menggunakan Kamera untuk dokumentasi mereka.  Kami langsung ikut serta dalam aksi itu. Kami rasai darah kami naik ke ubun-ubun, degup jantung tak bisa lagi jinak, kami mulai merasakan marah atas ketertindasan kami dan Lagu darah Juang kembali kami lantunkan dengan segenap jiwa raga kami. Ada air bening mengalir dari balik kacamata dan kubiarkan ia mengalir hangat di pipiku yang juga penuh peluh kini.

Tak lama kemudian, Si Mahasiswa yang marah dari Ruang Informasi beserta Si Dosen yang juga berdebat hebat dengannya muncul pula di tempat berjalannya aksi. Suasana sempat mencekam sebab ada lontaran kata-kata dari oknum mahasiswa yang dinilai terlalu kasar oleh Satpam Kampus. Hampir terjadi  chaos. Tetapi suasana kembali kondusif setelah adu argumen dan saling tuding selama 5 menit antara pihak Mahasiswa dan birokrat kampus. “LAWAN KITA BUKAN SATPAM KAMPUS, LAWAN KITA ADALAH SISTIM YANG MENINDAS DI KAMPUS INI BESERTA BIROKRAT YANG TIDAK BIJAK! JANGAN TERPROVOKASI. KAWAN-KAWAN!” Sang Orator mengingatkan dan aksi kembali berjalan damai.

Inilah potret kehidupan kampus saat ini. Bukankah teknologi dengan segala kecanggihannya yang mutakhir bertujuan untuk keefektifan dan sebisa mungkin untuk menghemat pengeluaran? Tetapi itu tidak terjadi di kampus kami. Memang sistim pengisian KRS dan KHS Online ini baru dicetuskan dan diimplementasikan sejak TA 2016-2017 ini sehingga wajar ketika tidak semua mahasiswa yang memahami peraturan baru ini mengingat banyak pula Mahasiswa yang kuliah malam sebab siangnya mereka harus bekerja. Bekerja agar bisa membayar uang kuliah. Denda yang dibebankan kepada Mahasiswa pun terbilang sangat tinggi dan tidak masuk akal sampai Rp 200.000,-. Tidak hanya itu, bahkan kami diwajibkan mengikuti Ujian susulan dengan membayar 50.000/ Mata Kuliah.

Semua peraturan itu lahir dari rahim birokrasi Kampus tanpa kesepakatan Mahasiswa. Kebijakan kata mereka, kami bilang PENGHISAPAN YANG LICIK. Semua serba uang, uang dan uang. Bila sudah begini, masih beranikah pemerintah menuntut mahasiswa untuk lebih kreatif, inovatif dan mandiri? Bagaimana mungkin kami bisa kreatif saat sejak bangun tidur kami sudah dicekoki pembayaran-pembayaran dan pembayaran uang kuliah serta pungutan-pungutan lainnya yang tidak pernah kami sepakati?

Dari Sang Orator kami mendengar komando bahwa malam ini mahasiswa yang bergabung tanpa nama aliansi ini namun bergabung dari berbagai jurusan untuk bubar dari kampus dan diskusi di tempat yang disepakati, infonya esok (Sabtu, 14 Januari 2017) akan diupayakan kembali meminta temu dan diskusi terbuka dengan warek, rektor dan Presiden Mahasiswa untuk menyampaikan tuntuan aksi dan solusi agar mahasiwa diijinkan mengikuti Ujian Susulan tanpa pungutan tambahan lagi dan jangan ada intimidasi dalam bentuk apapun terhadap mahasiswa yang hari ini ikut aksi. Bila, pertemuan dimaksud tidak berhasil maka mahasiswa terpaksa akan turun ke jalan utama SM.Raja , Medan Amplas untuk mengkampanyekan kepada publik bahwa hari ini kampus Universitas Muslim Nusantara- Alwashliyah tidak lagi berazaskan kerakyatan, keterjangkauan dan demokrasi, maka JANGAN lagi daftarkan keluarga, kawan atau saudara ke kampus ini.

Ke depan bila sistim ini dilestarikan dan bahkan dikembangbiakkan, bisa dijamin Universitas hanya akan melahirkan mahasiswa yang apatis sebab yang ditargetkan adalah POKOKNYA Lulus cepat agar biaya tidak membengkak. Urusan kontrol sosial? Mari kita tinggalkan di tempat sampah. Kami tidak sepakat itu terjadi sebab cita-cita Kemerdekaan dan Cita-cita pendidikan adalah memanusiakan manusia, bukan menguras manusia.  Kami melawan sistim ini.  Sebab Pendidikan  berbasis Kerakyatan,  Ilmiah dan Demokratis harus diwujudkan bila kita masih berharap Bangsa ini bisa lebih baik.
Bila di Kampus saja kita dipimpin dengan sistim yang menghisap? Lalu, dimana lagi kita bisa merasakan hidup yang tanpa penindasan? Mau dibawa kemana Bangsa ini?


Hidup Rakyat! Hidup Mahasiswa! Hidup Perempuan yang Berlawan!
[Dina Mariana Lumban Tobing]


Related

Terkini 6809654414015459827

Posting Komentar

emo-but-icon

Kabar Terhangat

Situs Web PGI

Berita Terbaru

item