"REVOLUSI, BERGANTI SEBELUM MATI"

Rumah Kita Judul Buku : Revolusi; Berganti Sebelum Mati Penulis : Reza Nufa Jumlah Halaman : 254 Halaman/ 27 Bab  Tahun Terbit ...

Rumah Kita


Judul Buku : Revolusi; Berganti Sebelum Mati
Penulis : Reza Nufa
Jumlah Halaman : 254 Halaman/ 27 Bab 
Tahun Terbit : 2011

*PARA TOKOH

Dira, seorang mahasiswi yang acuh kepada laki-laki, bersepeda motor besar setiap kali ke kampus di Jakarta dan selalu mengambil jalur busway saat Jakarta sedang dilanda kemacetan. Fajar, seorang Mahasiswa, ketua BEM Kampus , anak orang kaya mapan yang tidak diperdulikan orangtuanya karena sering berdemonstrasi dan jarang di rumah, pintar dan tampan. Novi, teman akrab Dira yang (awalnya) cengeng, pesolek, naksir Fajar. Seorang Polisi bernama Irham, polisi yang mengira Dira adalah lelaki dan selalu memperhatikan Dira yang melanggar jalur Busway, Polisi tegap, muda, baik dan “bersih”, patuh terhadap perintah atasan. Bapak Herman , adalah seorang pensiunan TNI ayah dari Dira, keras dan penikmati berita di TV. Merasa bersalah karena dulu saat masih aktif di TNI, ia tidak berpihak kepada yang benar.

Novel ini menceritakan kisah keseharian 3 Mahasiswa yang berbeda namun berada di Kampus yang sama.  Di awal- awal novel ini berkisah tentang keseharian Dira yang manja, tinggal bersama Ayahnya Pak Herman sejak terjadi keributan dengan ibunya yang seorang Dokter. Dira meski sudah Mahasiswi tidak ingin mengurus SIM meski sudah diingatkan oleh ayahnya, hingga suatu kali ia masuk jalur Busway karena jalanan Jakarta yang saat itu macet. Seorang Polisi bernama Irham memintanya ikut ke Pos Jaga Polisi namun entah bagaimana atasan Irham yang saat itu ikut memantau memerintahkan Irham untuk melepaskan Dira karena Dira adalah anak TNI.

 Irham dalam batinnya berontak terhadap atasannya namun sebagai Polisi bawahan ia harus patuh terhadap atasan sebagai tanda loyalitas meski ia tidak tahu mengapa ia harus mematuhi atasannya. Irham masih baru masuk Polisi jadi ia masih berpangkat rendah yang terbiasa dipindahtugaskan seenak atasannya dan selalu di jalanan untuk membereskan situasi di Jalan. Polisi Pengatur Lalu Lintas. Irham sejak dulu tidak menginginkan profesi itu, ayahnya yang sangat menginginkan ia menjadi seorang Polisi dan Irham tak kuasa menolak permintaan ayahnya itu.


Novi, sahabat Dira yang sejak lama mencintai Fajar ternyata tidak dibalas cintanya oleh Fajar. Malah Fajar mencintai Dira. Disela kesibukan kuliah yang padat dan aksi demonstrasi yang selalu ia lakukan , Fajar masih berupaya mendekati Dira dan memperhatikan Dira setulus hatinya. Hingga suatu saat Dira kembali kena tilang Polisi yang sama dengan kasus yang sama.

 Kali ini Irham benar-benar tegas dan meminta Dira membuka helmnya, ia terkejut karena ternyata pengemudi nakal yang selama ini diintainya adalah perempuan. Dira mengancam Irham dengan berkata “ Ayahku TNI ,lho”. Irham menjawab “ Baguslah kalau TNI, minggu depan kamu disidang.” Dira menjawab “ Tapi, kenapa harus sidang?” Irham menjawab dengan tegas “silahkan tanya kepada ayahmu yang TNI itu.” Sesampai di rumah ia mengadu kepada ayahnya berharap ayahnya akan membelanya tetapi Pak Herman ayah Dira justru membenarkan sikap Polisi itu dan menyalahkan Dira. Namun, demikian Dira tetap tidak mengurus SIM nya.

 Nasib malang dia, malah kecelakaan karena ditabrak pengemudi motor  lain yang sedang terburu-buru. Kejadian itu disaksikan oleh Irham yang setiap hari bertugas di Jalan itu. Dira pingsan dan lengan kanannya terluka. Irham membawa Dira ke Rumah Sakit, membayar tagihannya dan mengantar Dira. Irham menmyukai Dira. Esoknya Irham datang ke rumah Dira untuk mengantar motornya yang sudah ia perbaiki saat itulah ayah Dira meminta tolong kepada Irham untuk menemani Dira saat ke Pengadilan minggu depan karena ayah Dira sedang sakit. Irham menyanggupi permintaan ayah Dira tersebut.

Sementara itu Fajar sudah setiap pagi menjemput Dira ke kampus dan mengantarnya pulang ke rumah selama Dira masih sakit. Setiap pagi  ia dan Pak Herman berdiskusi tentang berita pagi yang mereka tonton bersama di TV. Beberapa diskusi mereka adalah:

a. Tingginya harga sembako, pemerintah mengimpor sembako tetapi anehnya pembangunan fisik bangunan mewah masih saja berjalan lancar jaya. 

b. Masyarakat kelaparan tetapi para DPR malah ribut minta gaji naik dan mobil yang lebih mewah.

c. Korupsi yang jelas melibatkan keluarga Presiden tetapi media seakan menggiring masyarakat untuk melihat hiburan yang membodohkan masyarakat dengan framing berita yang tidak diperlukan.

d. Perdebatan anatara Pak Herman dengan Fajar tentang Mahasiswa yang rajin demo, tetapi masih terlambat bangun saat harus kuliah; Mahasiswa yang dinilai koruptor mini oleh  Pak Herman dengan menuding bahwa mahasiswa berdemo hanya karena dibayar.

e. Kebencian Fajar kepada Polisi dan TNI yang dia cap sebagai anjing yang sudah dicuci otaknya oleh pemerintah dan bekerja sesuai pesanan atasan tak peduli atasannya benar atau salah, tak peduli rakyat yang menggajinya yang benar atau salah. Pak Herman menyatakan bahwa tak semua Polisi atau TNI sebejat penilaian Fajar.

Hari berlalu, Fajar masih selalu berdemo demikian juga Novi yang memutuskan ikut organisasi mahasiswa dan turun ke jalan. Tetapi Dira adalah Mahasiswi kupu-kupu yang tidak pernah mau tahu mengapa Fajar dan Novi ikut organisasi bahkan rela berpanas,lapar saat demo. Yang Dira pahami bahwa negara ini aman sentosa saja. Ia hanya pulang ke rumah dan mengurung diri di kamar nyamannya tanpa tahu apa yang sedang terjadi di Negaranya. Ia menikmati hari-hari dimanja Fajar dan menikmati rasa rindunya yang mencintai Irham,Sang Polisi.

Pada Mei 2012, terjadi pertemuan Fajar, Irham dan Dira di tengah jalan . Fajar mengikrarkan bahwa ia akan bersaing sehat dengan Polisi yang ia benci bukan karena ia polisi tetapi karena ia mencintai gadis yang sama. Irham menyatakan bahwa ia tak harus bersaing dengannya. Fajar ditolak, dan Irham menyatakan bahwa Irham mencintai Dira tetapi tidak untuk pacarnya. Dira muram, galau.

Dalam pada itu terjadi pergolakan di negara yang membuat jengah rakyat, mahasiswa dan para pengamat rakyat lapar. Marah melihat politisi yang suka memelintir, berbisik dan berteriak di depan TV tetapi menutupi kejahatan luarbiasa: ketidakpedulian terhadap rakyat yang telah menggaji mereka. Harga sembako melejit tinggi, Presiden tidak melakukan apa-apa, korupsi merajalela dan ketidakadilan semakin buas. Saat Irham, Fajar dan Dira dalam kegalauan mereka masing-masing tetapi Fajar tetap konsisten dengan aksi-aksi mahasiswa dalam membela rakyat dengan turun ke jalan, sebaliknya Irham sebagai Polisi bertugas berjaga “ menjaga dan melindungi masyarakat” ia sebut. 

Irham yang menilai Polisi adalah pion-pion Sang Penguasa yang siap mati demi sesuatu yang ia tidak ketahui, Irham yang menganggap Irham sebagai bagian dari Mahasiswa yang dibayar untuk berdemo. Irham menganggap Mahasiswa juga layaknya politisi yang berteriak saat mereka butuh lalu diam saat mulutnya disumpal dengan dua sumbu: Uang dan kekuasaan.  Ia benci dengan tugasnya yang harus patuh kepada atasan dan menjadi objek lemparan batu para demonstran.


Berita tentang demonstrasi besar-besaran itu disaksikan Pak Herman dan bergegas pergi ke TKP ia bilang kepada Dira “ untuk menebus kesalahan di masa lalu yang tidak pro rakyat malah menembakkan peluru kepada seorang demonstran.” Dira tidak paham apa maksud ayahnya. Dira mengikuti berita di TV dan ia teringat Irham yang ia cintai. Ia keluar dengan motornya untuk mencari Irham ditengah kekacauan kota Jakarta.  Ia malah bertemu Fajar saat batu menghantam kepala Fajar dan lengan kiri Dira. Ia ditolong oleh Fajar di tenda dengan bantuan Novi yang saat itu juga ikut berdemo di barisan mahasiswa dan rakyat. 

Novi kini lebih dewasa, sudah tak pesolek apalagi cengeng yang paling penting Pola pikirnya jauh berbeda kini sejak ikut dan aktif di organisasi yang sama dengan Fajar. Dira masih tidak paham mengapa kekacauan ini terjadi dan mengapa mahasiswa dan Polisi saling melempar batu dan bom molotov. Terlebih di luar sana ada ayahnya, abangnya yang juga seorang TNI, dan Pria yang ia cintai, Irhma. Ia ngotot harus bertemu Irham kepada Fajar.

Fajar berjanji akan mempertemukan Dira dengan Irham paginya. Fajar memenuhi janjinya ia membawa Dira ke arah pertahanan Polisi mereka bertemu Irham dan terjadi perdebatan dengan Irham.

Fajar meminta Irham sebagai Polisi untuk memahami situasi dan sadar bahwa Polisi harus menjaga rakyat bukan memenuhi pesanan atasan korup dan pemerintah yang kejam kepada rakyatnya. Irham sebagai Polisi langsung menuding Fajar dan kawan-kawannya justru merusak ketenangan rkayat dengan berdemo entah karena digaji oleh siapa. Fajar naik darah dan langsung menghantam muka Irham sebab ia dan kawan-kawannya berdemo bukan karena dibayar oleh siapapun tetapi itu murni dilakukan karena menayadari dan memahami situasi Negara sedang sakit dan kacau akibat pemerintah yang korup. Itu sebabnya mereka menuntut agar Presiden Turun, Kejaksaan Turun, dan Rakyat yang berkuasa. Sembari memukul wajah Irham, Fajar menjelaskan niatan tulusnya dan kawan-kawannya. Dira lemah dan tidak berani berbuat apa-apa. Ia bingung dengan dua lelaki yang ia sayangi itu dan sama sekali tidak menngerti apa yang dijelaskan oleh Fajar. 

Sementara itu, massa semakin besar dan kembali melempari batu kepada Polisi. Polisi terdesak. Irfam membalas pukulan Fajar dan meminta mereka segera masuk ke Bara kuda untuk meyelamatkan diri. Kepala Fajar berlumuran darah karena terkena batu yang dilempar kearah mereka, ia pingsan setelah masuk ke bara kuda. Dira masuk ke bara kuda dengan kemarahan, takut, sedih dan kebungungan yang tak terkira. Ia membawa Fajar ke tenda dan mencari Dokter untuk merawat Fajar yang sudah jatuh pingsan. Ternyata ia malah bertemu Ibunya, Dokter. Ia sangat senang bertemu ibunya meski di saat yang sangat kacau. Setelah ibunya merawat Fajar, Fajar beristirahat seharian. 

Demonstrasi semakin besar, massa dari Bogor, Bandung datang ke Jakarta untuk membantu massa di Jakarta. Tentara menarik diri, Polisi terdesak. Dekat dengan tenda mahasiswa ada terlihat banyak orang sedang shalat di jalan beralaskan koran, di sebelahnya terlihat sekumpulan orang banyak berdoa dengan ajaran agama mereka. Rakyat dan Pemuka Agama bersatu meminta keadilan, meminta kejujuran dan keikhlasan para penguasa serakah. Presiden harus Turun!

Sementara Dira memilih tidur di tenda bersama Novi. Tiba-tiba terdengar pekikan suara “ Presiden Turun!” massa menyambut dengan sorak-sorai. Tawa dan pekikan “Allahu Akbar; Puji Tuhan” Fajar berlari ke arah gedung DPR dan sudah tak kelihatan lagi. Dira menyadari Fajar sudah ikut gerakan massa ke arah gedung DPR untuk menduduki gedung. Ia berlari mengejarnya tetapi ia gagal. Sekuat tenaga ke Gedung DPR ia tak menemukan Fajar ia heran, takut dan bingung melihat massa yang kini tersenyum terbahak-bahak duduk bersama dengan Polisi; mereka tidak saling melempar lagi. 

Dira benar-benar tidak paham. Mengapa Presiden turun? Mengapa setelah Presiden turun, Polisi dan Massa ini berdamai? Dira bingung dalam usahanya mencari Fajar atau Irham sekaligus mencari ayahnya. Ia hanya bertemu Ibunya dan memeluknya erat, mengetahui ayahnya kini sudah mendapat perawatan dari ibunya dan pengakuan Ibunya mereka kini sudah menyelesaikan masalah dengan Pak Herman, suaminya. Dira senang kini keluarganya berkumpul meski ia masih harus berjibaku mencari Fajar dan Irham, Polisi baik yang ia cintai.

Dira menemui Novi di tenda. Novi menceritakan bagaimana proses yang ia alami sejak aktif berorganisasi dan perubahan pandangannya terhadap negara dan apa tanggungjawab Mahasiswa terhadap keadaan neagara. Dira sangat malu terhadap dirinya sendiri sebab selama ini ia hanya sibuk dengan rutinitasnya dengan kamar nyaman, motor mewah, dimanja di rumah, sibuk dengan twiter dan medsos lainnya tanpa jelas juntrungannya kemana. 

Kini ia paham betul mengapa Polisi dan Mahasiswa kini tak sepaham. Ia kini paham batu itu dilempar bukan kepada Polisi tetapi kepada ketidakpedulian dan kejahatan birokrasi Negri ini. Polisi tidak sepenuhnya pro pemerintah, mereka hanya tidak diberi pilihan oleh negara untuk membela rakyat. Polisi bukanlah musuh, Pesan pemerintah yang memaksa mereka seakan tak punya pandangan yang sama dengan rakyatnya.

Dira dan Novi terhenyak saat seorang teman memberitahu bahwa Fajar tertembak dan sudah meninggal. Mereka berlari dan benar Fajar sudah meninggal tertembak di kepala bekas lemparan batu kemarin malam itu. Dira menjerit sejadinya tak kuasa ia melihat pria yang mencintainya itu kini sudah tiada. Pergi bersama semangat, pengorbanan dan perjuangan yang tidak sempat ia pahami maksudnya. 

Hari berganti, keluarga Dira kembali utuh dan rumah kini hangat. Tetapi Dira tidak mengetahui kabar dan keberadaan Irham dimana. Kampus menjadi sepi tanpa Fajar. Presiden kini sudah berganti, tidak lagi ada massa berdemo. Begitu datar kini keadaan lingkungan dan kampus Dira. Dira sudah lulus S1 dan berencana melanjutkan S2 nya. Ia berjanji akan meneruskan apa yang diperjuangkan Fajar dan kawan-kawannya. Kini ia tak lagi menerobos jalur busway, mulai peduli dengan lingkungan dan mengikuti berita bersama ayahnya, bahkan berdiskusi juga ia kini sudah rajin.

\ Pagi itu, saat menonton TV Irham tiba-tiba datang ke rumah Dira. Mereka menjelaskan semua perasaan mereka dan berjiarah ke kuburan Fajar. Irham berterimakasih kepada Fajar karena telah menamparinya di malam penuh kekacauan saat itu, sebab kini ia memahami apa yang dia perjuangkan saat itu. Kini Irham menyatakan bahwa Fajar adalah gurunya, dan akan meneruskan perjuangan Fajar. Ia mengakui bahwa Polisi banyak merampok rakyat tetapi ia mengatakan kini mereka sudah lebih baik.

Pelajaran :

a. Mahasiswa harusnya tidak terpaku dalam rutinitas perkuliahannya saja seperti Dira. Tetapi wajib memperdulikan keberadaan masyarakat dalam kaitannya dengan pemerintah dan keadaan sosial lalu berkontribusi  memperbaiki keadaan meski harus mengorbankan waktu, materi, pikiran, perasaan bahkan nyawa. Karena untuk masyarakatlah kita menempuh pendidikan di lembaga bernama perguruan tinggi.

b. Siapapun dan apapun profesi kita sebagai manusia layaknya kita berdiri tegak membela kebenaran dan menuntut keadilan kepada penguasa. Jangan sampai kita selaku rakyat saling bunuh padahal orang yang layak dilempari batu justru duduk di kursi nyamannya.

c. Tidak perlu harus ada yang mati dulu, baru kita mengubah pola pikir, kebiasaan malas dan keapatisan kita selaku mahasiswa. Berdirilah tegak dan lawan!!!

Sepenggal Puisi dari Reza Nufa
Lidah Sang Pena”

Engkau Pikir, siapa yang kau lempari?
Lelembut gunung yang tak punya hati?
Iya?

Padahal engaku tidak kenali diri . . .
Engkau Pikir apa yang kau duduki?
Apa?

Kotoranmu menumpuk di atas tahta!
Kotor!
Engkau bahkan tidak pernah bersuci!
Bagimu, ini fiksi yang menyakiti.
Iya?

Bukankah kejujuran itu terlihat? Hah?!
Engkau Bodoh! Jangan potong lidahku!
Tapi benahi langkahmu.





[ PENULIS : Dina Mariana Lumban Tobing]

Related

GALERI 2639154757790542848

Posting Komentar

emo-but-icon

Kabar Terhangat

Situs Web PGI

Berita Terbaru

item