NIKAH (LAGI)

Rumah Kita Judul : Nikah (Lagi) Penulis : Idris Pasaribu Penerbit         : Kakilangit Kencana Tahun Terbit : 2014 Ukuran Buku ...

Rumah Kita

Judul : Nikah (Lagi)
Penulis : Idris Pasaribu
Penerbit         : Kakilangit Kencana
Tahun Terbit : 2014
Ukuran Buku : 19 cm x 12,5 cm

  Cinta akan menemukan jalannya, demikianlah agaknya makna tersirat dalam Novel karya sastrawan kawakan dalam karyanya berjudul Nikah (Lagi) ini. Dikisahkan sejoli yang berbeda latar belakang suku dan ekonomi yang sejak di bangku SMP di sebuah desa  telah saling mencintai. Busoko, laki-laki Jawa anak seorang Tentara yang miskin dan Evelina suku Batak Toba anak petani biasa. Sejak hubungan mereka tercium kedua orangtua mereka, tantangan cinta mereka pun mulai menyapa.

Zaman saat uang Rp 13.500 bisa menjadi biaya Kos 1 Bulan di Jakarta. itulah settingan waktu yang coba ditunjukkan Penulis. Darah muda saat SMA akhirnya menantang keberanian sejoli ini. Bersama 4 orang teman mereka, suatu saat mereka pergi menonton Pasar Malam di kampung dan pulang terlalu larut. Malamnya mereka berempat memginap di rumah salah satu diantara mereka. Tiur namanya. Keesokan harinya tentu saja ketidakpulangan mereka berdua menjadi buah bibir di kampung. Zaman itu bila sepasang anak muda tidak pulang dan diketahui bersama, maka risikonya akan berat. Busoko dan Evelina berisiko dipisahkan.

Adalah Saluhut satu diantara 4 sekawan itu menganjurkan agar Busoko dan Evelina Kawin Lari saja. Sebagai sahabat mereka bahkan rela patungan mengumpulkan uang saku, ada yang  memberikan emasnya untuk dijadikan Modal Kawin Lari dan ongkos ke Palembang. Yang dituju adalah Om nya Busoko yang juga seorang tentara. Delapan hari delapan malam kedua pemuda yang dimabuk cinta itu berada di perjalanan menuju Palembang. 

  Sesampai di Palembang Om Busoko mengurus Busoko yang secara mengejutkan membawa seorang perempuan. Mereka berdua baru kelas satu SMA. Om Busoko menghubungi ayah Busoko dan berjanji kepada Busoko bahwa bila mereka kembali ke Kampung, mereka akan dinikahkan.

  Busoko dan Evelina senang, mereka kembali pulang ke Kampung masih menempuh rute yang sama. Delapan hari delapan malam mereka di jalan. Di perjalanan sekitar Pekan Baru, mereka melihat api yang keluar dari pipa Pertamina mengeuarkan api berwarna merah gelap sekaligus biru. Kata Busoko, selama pipa itu tidak ditutup, api itu akan tetap menyala. Semacam api abadi katanya. Pemuda ini pun bersumpah sambil menatap api itu untuk saling mencintai selamanya tak perduli apapun yang menghalangi. 

  Tiba di kampung, Evelina dibawa ke rumah Busoko. Ternyata di kampung itu sudah sepakat kedua orangtua mereka untuk merestui pertunangan saja sebab mereka harus lanjut sekolah. Tentu setelah Evelina dicek oleh bidan soal keperawanannya yang masih utuh.  Setelah pertunangan singkat usai, Ibu Evelina langsung menyeret putrinya ke rumah dan berkata anaknya itu akan sekolah di Medan. Tidak mau kalah, Ayah Busoko pun mengatakan ia akan menyekolahkan anaknya ke Jakarta. Evelina dan Busoko sama sekali tidak diberi kesempatan untuk mengucapkan salam perpisahan apalagi diberi waktu untuk berbahagia merayakan pertunangan mereka. Ibu Evelina sangat membenci Busoko hanya karena Busoko anak suku Jawa.

  Ternyata pertunangan hanya kamuflase para orangtua untuk memisahkan mereka berdua. Evelina tidak sekolah di Medan tetapi di Sibolga, bahkan Busoko tidak sekolah di Jakarta tetapi di Pontianak. Surat dari Busoko tidak pernah sampai di alamat yang diberikan ibunya kepada Busoko. Sebaliknya surat Evelina tentu saja selalu kembali padanya karena alamat yang ia dapat soal keberadaan Busoko dinyatakan tidak dikenal oleh Kantor Pos. Tentu saja, Evelina tidak tahu bahawa Busoko tidak di Jakarta.

Rindu mereka tertumpah lewat tulisan masing-masing entah di Majalah dinding sekolah, di koran dan atau majalah lokal masing-masing mereka melanjtkan pendidikan. Evelina dan Busoko meyakini mereka akan bertemu kembali meski keraguan dan kerinduan acap kali mendesak mereka. Tetapi, Evelina dan Busoko sama-sama setia dalam ketidaktahuan mereka akan keberadaan Sang Kekasih. SMA usai dengan baik. Evelina masuk di FKG dan Busoko lulus di Fakultas Hukum di universitas yang sama. Tetapi mereka sama sekali tidak saling tahu.

Hingga rangkaian Inagurasi telah mempertemukan dua sejoli yang sudah saling merindukan ini. Setelah menuntaskan kesalahpahaman keduanya tentu kembali rujuk. Mereka berpacaran diam-diam tanpa sepengetahuan orangtua mereka masing-masing. Di Jakarta mereka tidak sengaja bertemu dengan sahabat mereka semasa di kampung. Sahabat yang menganjurkan mereka kawin lari di usia belia dahulu.  Reuni yang sangat menyenagkan tentunya.

Suatu kali saat akan berjalan-jalan ke Tanjung Priok bersama Busoko dan kedua sahabatnya, Evelina dikagetkan kedatangan Ibunya secara tiba-tiba. Busoko langsung pucat lantas Evelina diseret Ibunya kembali ke kos setelah menampar Saluhut karena coba menenangkan Ibu Evelina. Busoko hanya bisa diam dan iba melihat kekasihnya kembali diseret. Evelina dan kawan-kawan sudah berkelit bahwa ia dan Busoko bertemu baru kali itu tanpa sengaja, tetapi Ibu Evelina tidak percaya.

Akhirnya Busoko dan kawan-kawannya pulang ke kamar kos Busoko yang berjarak dekat pula dengan kamar kos Evelina. Busoko tak kuasa menahan keinginannya melihat Evelina. Dia menyelinap ke kamar kos tetangga Evelina. Sri namanya. Ia melihat Evelina menangis karena dibentak-bentak bahkan ditampar ibunya karena persoalan tadi di Pelabuhan.

Sarluhut lagi-lagi menyarankan agar mereka Kawin Lari sungguhan. Kali ini Sarluhut dan Sri benar-benar mengatur segala sesuatunya. Termasuk menyiapkan keluarga mereka di Semarang utnuk mengurus dus sejoli yang menderita karena cinta itu. Kawin Lari Jilid II dimulai. Evelina meninggalkan sepucuk surat berisi bahwa ia akna menikah dengan Busoko dan ia sudah Hamil. Ia titipkan surat itu ke tetangga kos yang lain. Mereka kawin lari dari Kampus. Kali ini dikawal oleh Sri dan Saluhut yang akhirnya menjadi sepasang kekasih dalam sekejap pula.

Busoko dan Evelina tiba di rumah Omnya di Semarang. Evelina dititipkan di rumah penatua gereja. Ternyata Saluhut juga melamar Sri menjadi istrinya dan meminta agar Saluhut dan Sri juga menikah di hari yang sama dengan Evelina dan Busoko. Abang dan Kakak Ipar Sri yang tinggal di Semarang menerima lamaran itu dengan senang hati. Jadilah pernikahan dua pasang  Mahasiswa berlatar Jawa dan Batak itu di sebuah Gereja Katolik. Mereka telah mengirimkan telegram kepada orangtua Evelina juga orangtua Saluhut. Hanya Pemberkatan di Gereja dan resepsi sederhana yang dapat mereka lakukan.

Esoknya setelah pemberkatan selesai, Evelina dan Busoko langsung bertolak ke Jakarta. Sebab mereka harus mulai menyusun Skripsinya. Tahun ini Busopko harus lulus menajdi SH,  dan Evelina harus bisa Co as tahun depan tentu mesti menyelesaikan Skripsinya pula. Biaya tentu menjadi persoalan serius bagi mereka berdua dan orangtua Busoko.

Busoko bekerja menjadi Kondektur sambil  kuliah untuk memenuhi keperluan sehari-hari. Tak mikroletnya ditumpangi dosen pembimbingnya yang juga pengacara hebat. Darmanto namanya. Darmanto simpatik melihat perjuangan Busoko lantas ia mengajak Busoko untuk magang di kantornya. Gajinya Rp 65.000 sebulan selama magang dua tahun. Tentu saja kabar baik ini disambut baik Evelina dan Busoko. Kehidupan mulai terprediksi. Evelina hamil. Ia malah harus melahirkan di hari wisuda Busoko. Untung ada Saluhut, Sri serta orangtua Busoko yang menunggui istrinya di Rumah Sakit. 

Karir Busoko membaik, kini Evelina sedang co as. Mereka sudah punya mobil baru dan rumah baru yang masih kredit. Kini Busoko sudah menjadi advokat yang bergabung di Peradin.  Rejeki berada di pihak keluarga muda ini, akhirnya seperti janji Busoko saat pemberkatan, mereka pun akhirnya boleh membayar adat ke kampung Evelina. Ya, kepada orangtua Evelina.

Amarah ibu Evelina bak kemarau menahun itu pun kini lembab, basah setelah ia melihat kehadiran cucunya yang bak hujan pembawa damai. Watak Baja Hamonangan  Simbolon namanya, tentu setelah Busoko dianugrahi marga Simbolon oleh hula-hulanya di kampung Evelina. Keluarga ini bahagia. Mereka sanggup membuktikan bahwa dengan menikah mereka akan tetap menyelesaikan perkuliahan dan berkarir dengan baik pula. Terutama Evelina membuktikan bahwa Busoko adalah Pria bertanggungjawab. Terbukti ia menepati janji untuk membayar adat (Manuruk-nuruk). 

Amarah karena dibohongi pura-pura hamil, dan nekat kawin lari itu hari itu padam sudah. Yang tersisa tentu  rangkaian cerita bahagia kekeluargaan yang mewarnai lika-liku hidup Evelina, Busoko dan anaknya. 

Cinta akan menemukan jalannya untuk bersatu, tidak selalu harus kawin lari atau pura-pura hamil. Yang penting adalah tekat dan komitmen untuk maju bersama serta tanggungjawab. Novel ini baik dibaca oleh pemuda-pemudi yang sedang berbunga-bunga atau pun sedang galau. Sebab dialognya yang jenaka dan keteguhan hati mampu menyihir pembacanya untuk segera menuntaskan novel ini dan memetik pesan penulis. Semangat membaca para pecinta sejati!

[Dina Mariana Lumban Tobing]

Related

Terkini 6344466806527363228

Posting Komentar

emo-but-icon

Kabar Terhangat

Situs Web PGI

Berita Terbaru

item