ENTROK

Rumah Kita Tebal buku : 282 Halaman Penerbit         : Gramedia Pustaka Utama Tahun : 2010 Jenis Buku : Novel  Marni, perempu...

Rumah Kita



Tebal buku : 282 Halaman
Penerbit         : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2010
Jenis Buku : Novel 

Marni, perempuan manis dengan kulit gosong merengek pada ibunya untuk dibelikan entrok. Pada saat itu (1950-1960) jangankan entrok, kain penutup badan pun sebuah kemewahan belaka yang hanya mungkin dimiliki kaum priyayi saja. Marni dirawat ibunya yang telah ditinggal pergi Bapaknya entah kemana setelah pertengkaran hebat hingga kekerasan fisik kepada ibunya. Kini, Marni dan ibunya tinggal di rumah gedek beralaskan tanah dan hanya ada tikar pandan untuk alas tidur. Ibu Marni saban hari mengais rejeki dengan menguliti singkong di pasar, digaji dengan singkong pula. Hanya laki-laki yang akan dibayar dengan keping uang saat itu, walau demikian susah Marni dan ibunya tetap setia menghormati leluhur dan Ibu Bumi Bapa Kuasa yang dipercayai Ibunya sejak turun-temurun.

Marni selalu tinggal di rumah, memasak gaplek yang sedap setelah ibunya pulang dari pasar membawa makanan: Singkong. Suatu hari Marni melihat Tinah, sepupunya memakai Entrok untuk menahan payudaranya yang kian tumbuh. Marni pun merasa penting memiliki dan memakai entrok sebab ia mulai kesakitan bila meloncat dan berlari. Ia mengadu pada ibunya, tetapi jangankan janji untuk membelinya bahkan ibunya tidak mengenal entrok sebab ia tidak pernah memakai itu sejak lahir hingga akhirnya meninggal. Selain tidak kenal, ibunya juga tidak mungkin bisa membelinya sebab mereka tidak punya uang. Ibunya selalu mendapat upah hanya berupa Singkong yang cukup untuk bahan makan sehari saja.

Marni, memutar otak, ia putuskan untuk ikut membantu ibunya mengupas singkong dengan ibunya tetapi tetap saja ia hanya diberi upah Singkong oleh Yu Parti, pedagang singkong tempat mereka bekerja. Marni, melihat impian untuk membeli Entrok semakin mustahil. Ia pindah kerja menjadi kuli. Ia melawan mitos perempuan tidak elok menjadi kuli. Bersama Tejo Si Kuli, ia memulai karirnya sebagai tukang angkat. Langganannya adalah istri-istri priyayi. Karir sebagai kuli mengantarnya ke bakul Entrok si Pasar Singget.

Hari berganti, Marni mulai sanggup menabung. Suatu hari ia memutuskan untuk berdagang sayur keliling kampung dengan modal awal uang recehan di tabungannya. Dengan modal 200 rupiah ia mulai bakul sayur keliling. Ia mulai mendapat langganan tetap dan pundi-pundi mengalir. 

Kini ia menikah dengan Teja. Mereka kini tak lagi nguli. Teja membantu Marni berkeliling kampung bakul sayur. Ia tidak pernah ikut campur dengan berapa modal dan untung. Ia hanya minta linting tembakau setiap hari. Marni tidak emmpersoalkan itu. Modal semakin besar, kini mereka mulai bakul perabotan rumah tangga keliling. Marni mulai menjualnya dengan sistim ngutang/ kredit dan ia akan mengutip cicilannya per hari. Dengan hasilpenjualan itu, Marni bisa menyekolahkan Rahayu anak semata wayangnya dengan baik tanpa kekurangan apapun bahkan kini ia sudah memiliki sepeda motor dan rumah dengan 3 pwon. Mereka keluarga bahagia.

Tetapi kebahagiaan berubah di tahun 1970-1982. Marni yang kini mulai mengutangkan uangnya dengan bunga 10% mulai diganggu oleh tuyul-tuyul  yang mengganggu ketentraman keluarga itu. Ya Tuyul-tuyul ini mengaku dari Negara,  alias  petugas keamanan, bersepatu tinggi dan berbaju loreng-loreng gagah keseluruhannya.  Tuyul-tuyul ini mulai menggangu sejak Pemilu pertama setelah goro-goro yang membuat Madiun berdarah. Lurah meminta seluruh warga singget ke balai desa katanya untuk mencoblos partai  kuning dengan gambar pohon beringin. Semula Marni dan Tejo tidak ada ketertarikan dengan itu, mereka tetap bakul perabotan, meski Rahayu sudah mengingatkan orangttuanya. Sebab, di sekolah Rahayu dan seluruh murid juga mendapat pesan dari guru bahwa mereka semua harus ke balai desa pada Pemilu. 

Rahayu kaget betul saat melihat kedua orangtuanya kini juga ada di Balai Desa. Ternyata di perjalanan saat menuju pasar Singget tentara  memaksa mereka ke balai desa bila tidak, mereka akan dipenjaran karena tidak patuh kepada negara. Marni dan Teja ikut apa kata tentara saja dan memilih gambar sesuai arahan tentara dan lurah. Partai Nomor 2. Balai Desa kian ramai, Marni dan Teja mendapat rejeki dagangannya laku keras kini tinggal 6 ember dan 4 panci. Seorang Tentara mendekati Marni minta panci karena istrinya perlu panci seperti dagangan Marni, gratis. Tentu saja Marni menolak keras. Tentara pergi ke komplotan temannya dan berbisik dan kini ramai-ramai menghampiri Marni dan Teja dengan tatapan curiga.

“ Kamu ini tidak tahu diuntung, kamu bisa bakul disini karena negara aman, dan kami yang mengamankan negara. Sini, beri kami panci-pancimu. Kan kamu sudah dapat untung banyak. Atau kamu mau dipenjara karena tidak menghargai petugas keamanan negara?”

Teja langsung ketakutan dan memaksa Marni merelakan sisa dagangannya dibawa tentara. Teja takut mereka akan dipenjara dan hilang seperti Pak Tikno tetangga mereka yang pernah kembali istrinya pun tidak diijinkan menengoknya ke penjara. Kata Tentara itu, Pak Tikno itu PKI karena melawan petugas negara. Teja tidak mau mereka mendapat masalah yang sama karena Marni. 

Bakul duit (bisnis pinjaman uang) Marni kian berhasil. Tetapi Marni semakin keras mendapat perlawanan dari Rahayu soal kebiasaannya menyembah leluhur Ibu Bumi Bapa Kuasa. Rahayu bilang ibunya sesat tidak beragama dan tidak bertuhan. Rahayu mendapat ilmu agama di sekolah dari Pak Waji. Kini Rahayu tidak mau lagi ikut nyuwun dengan ibunya di bawah Pokok Asem sebagaimana biasanya. Bahkan Rahayu mulai berani membuang tumpeng dan panggang yang ditaruh Marni di kamar Marni sendiri. Katanya, Marni syirik dan penyembah setan. Marni kesal dan bingung mengapa  sekolah membuat anaknya semakin tidak tahu diri, tidak menghargai leluhur? Padahal selama ini leluhur Ibu Bumi Bapa Kuasa yang memberi keselamatan dan kesejahteraan keluarga itu hingga Rahayu bisa sekolah.

Berkali-kali Marni menejlaskan bahwa ia tidak mencuri, tidak membunuh tetapi mengapa anaknya menyebutnya pendosa? Bagaimana mungkin Rahayu bisa memaksa Marni ibunya untuk sembahyang kepada Tuhan yang dipercayai Rahayu sementara ibunya  tidak pernah mengenal Tuhan yang dia maksud Rahayu? Rahayu pandai di sekolah tetapi bodoh karena ia tidak memahami historis budaya dan sosial ibunya hanya karena perkataan pak Waji di sekolah.

Semakin hari, Marni menjadi pergunjingan di kampung. Orang-orang mulai mencibirnya sebagai rentenir, pencekik leher dan lain-lain. Suatu kali  Tentara yang merampas panci saat di balai desa  datang e rumah Marni.  Minta uang aman sebab mereka yang mengamankan kampung sehingga Marni dapat bakul duit dan perabotan dengan lancar.  Marni menolak memberikan apa yang mereka minta, Marni mendapat ancaman yang abstrak.

Esok paginya sejumlah laki-laki bersarung dan berpeci datang menggedor rumha Marni dan hendak mengusir Marni karena Marni yang rentenir telah mencekik leher warga miskin yang meminta pinjaman darinya. Marni kaget bukan kepalang tanggung. Selama ini warga sendiri yang datang padanya minta tolong dengan bunga 10% yang setiap hari dikutip oleh Marni. Ia juga melihat termasuk Pak Waji ikut menggedor pintunya. Ia kini paham kemana ia harus bicara soal keamanan ini. Tentara. Iya tentara yang tempo hari dia usir dan tolak memberi uang keamanan.

Teja dan Marni kini berada di Kantor Kodim memberikan sejumlah uang kepada Sumadi atasan disana. Kini tidak adalagi orang menggedor rumah Marni di pagi buta bahkan mereka yang sebelumnya ikut menggedor rumahnya kini kembali ramah menyapa Marni meski mencibirnya di belakang bahkan turut pula kini meminjam uang dari Marni. Marni merasa bingung dengan sikap sekampungnya itu. Usaha Marni bakul duit berkembang kini. Tentara datang lagi meminta uang keamanan. Awalnya mereka hanya dua orang kini mereka datang empat sampai enam orang dan datang teratur. Dua kali seminggu. Marni dibuat pusing dengan Petugas Keamanan yang justru membuat Marni merasa tidak aman saat mereka datang dan se nyum padanya. Ironis!

Demikianlah Marni semakin berjaya dan Rahayu semakin menjauhinya karena menganggap Marni berdosa, musyrik, pencekik leher orang miskin. Pund, demikian Rahayu tetap tidak punya pilihan untuk tetap meminta biaya apa saja. 

Hari kelulusan Rahayu, ibunya mengundang orang untuk melakukan syukuran kepada Tuhan yang ia kenal yaitu Ibu Bumi Bapa Kuasa. Seperti biasa ia mengundang semua tetangga, menyiapkan tumpeng dan ayam panggang, Ada dua tumpeng dan panggang yang disediakan oleh Marni. Sepaket untuk dimakan bersama tetamu dan satu paket yang lain ditaruhnya di kamarnya.

Rahayu yang mengetahui itu semakin reaksioner dan berang. Ia buang semua tumpeng dan ayam panggang dari kamar Marni tanpa merasa bersalah sama sekali. Kali ini Marni teramat pilu hatinya. Ia melihat anak semata wayangnya itu semakin tidak segan dan tidak menghargainya lagi. Ia hanya dibutuhkan saat biaya sekolahnya mendesak. Bicara pun mereka tidak lagi. Marni meraung saat berkali-kali Rahayu membentaknya sebagai Penyembah Setan.

Namun demikian, namanya Ibu, amarahnya akan selalu mereda atas nama kasih sayang kepada putrinya. Kini, Rahayu akan kuliah. Betapa semangatnya Marni. Sebab dari zaman dia lahir hingga kini, belum pernah ada anak yang berhasil kuliah dari dusun Singget. Rahayu, putrinya akan menjadi yang pertama mengecap pendidikan tinggi dari dusunnya. Ia semakin semangat bakul duit dan bakul perabotan, tentara semakin rajin datang minta jatah dan suaminya Teja kini sering tidak pulang ke rumah. Ia tidak peduli, sebenarnya ia ingin menceraikan suaminya tetapi karena ia tidak rela hartanya dibagi dua sesuai hukum penceraian maka ia pura-pura tidak tahu saja perangai suaminya pemalas itu.

Rahayu, telah diantar ke Jogjakarta untuk kuliah di jurusan Pertanian di sebuah perguruan tinggi negeri. Rahayu tidak pernah mau dikunjungi orangtuanya setelah itu. Dia berjanji akan berkunjung ke rumah ibunya setiap tahun. Meski ia hanya menepati janjinya sekali saja dan hanya dua hari dia di rumah ibunya itu.

Marni kini memiliki 2 hektar kebun tebu. Kehidupannya sangat nyaman secara ekonomi. Ia mulai diminta Pak Lurah untuk menyumbang kepentingan partai. Saat pemilu, Pak Lurah meminta ia meminjamkan mobil pick upnya beserta Sopirnya untuk pawai ke desa sebelah untuk kepentingan kampanye partai bersimbol beringin. Tidak hanya itu, ia juga dimintai uang sebesar 3.000.000 untuk mendirikan panggung acara kampanye terebut. Ia tidak kuasa menolak.

Tetapi, naas. Pick up yang membawa puluhan penduduk itu kecelakaan. Masuk jurang. Sopirnya meninggal dan banyak warga yang luka-luka. Mobil ditahan di kantor Polisi. Marni harus menyelesaikan acara pemakaman Sopir nya itu dengan penuh kesedihan dan ikhlas. Tetapi, kemudian warga menyebutnya telah menumbalkan Sopirnya untuk Setan yang ia puja di bawah Pohon Asam di halamannya. Marni tidak habis pikir dengan semua cacian yang ia terima. Ia dipaksa membayar sebesar 3.000.000 di Kantor Polisi agar ia bisa membawa pulang pick up  yang kini sudah rusak berat. Ia membawanya ke bengkel temannya seorang tionghoa bernama Ko Cayadi.

Teja meninggal. Kembali Marni mengurusi pemakaman dan peringatan-peringatan lainnya yang ia yakini sebagai baktinya kepada roh suaminya. Rahayu tidak datang bahkan di hari ayahnya meninggal. Marni benar-benar tidak tahu lagi dimana anaknya itu. Ia tak bisa dihubungi dan tidak ada di pemondokan pertamanya di Jogjakarta.

Sementara . . .
Rahayu kini aktif di dunia ekstrakurikuler kampusnya. Ia ikut klub pengajian yang banyak mengaji dan juga melakukan pendampingan ke masyarakat. Rahayu, merasa inilah jalan yang paling benar. Dakwah. Ia tidak ingin pulang, ia tidak sudi serumah dengan ibu dan ayahnya yang pendosa itu. Menurutnya.

Ia jatuh cinta pada pembina pengajian itu, seorang dosen yang sudah beristri bernama Amir Hasan. Rahayu semakin lama semakin tidak bisa menyembunyikan cintanya lagi meski ia tetap diam, ia tahu Amir Hasan juga sering meliriknya saat pengajian. 

Suatu kali klub pengajian ini melakukan praktik pengabdian masyarakat di desa Magelang tahun 1985. Saat mereka bermalam di rumah seorang warga, terdengar ledakan hebat di Candi Borobudur. Keesokan harinya mereka didatangi enam orang tentara untuk diperiksa hingga malam sebab mereka telah tinggal di sebuah desa tanpa melapor kepada polisi.

Mereka diperiksa hingga larut malam. Setelah terbukti bahwa mereka tidak ada kaitannya dengan peledakan bom di candi Borobudur mereka diijinkan pulang. Tentu saja setelah memberikan uang aman sebesar 500.000. Rahayu tidak kaget karena bertahun-tahun ia melihat banyak tentara melakukan hal yang sama pada ibunya. Pemerasan atas nama Keamanan.

Diperjalanan mereka melihat enam orang tukang becak sedang direndam dua orang tentara karena mereka ketahuan bermain kartu. Saat para penarik becak ini akan pulang, salah satu dari mereka tidak dapat menahan kentutnta dan itu terdengar oleh tentara. Karena kentut itu mereka direndam di Kali Manggis dan ditampari. Rahayu dan teman-temannya yang menyaksikan itu berusaha menghentikan tindakan biadab tentara itu. Tetapi, tak dinyana-nyana mereka malah mendapat penganiayaan lebih berat dari kedua tentara itu. Mereka kembali diseret ke penjara untuk diperiksa.

Mereka semua berdarah-darah. Ada yang punggungnya memar karena dipukul dengan senapan dan Amir Hasan mengalami luka parah di mulutnya. Setelah ditahan satu malam mereka pulang ke rumah tempat mereka menginap. Mereka mulai menyusun rencana bahwa hal ini tidak bisa didiamkan.

Mereka mencari alamat tukang becak yang kentut sekaligus dihajar paling parah itu, menghubungi seorang wartawan dan memberitakan penganiayaan dua tentara itu ke koran. Awalnya si Tukang Becak itu menolak diwawancarai tetapi atas bujukan Amir, ia akhirnya bersedia dengan jaminan bahwa keluarganya akan baik-baik saja.

Berita penganiayaan oleh tentara terhadap tukang becak pun terpampang di dua koran. Tetapi, tidak ada perubahan apapun di struktur kodim. Bahkan selanjutnya mereka mendengar bahwa Tukang Becak yang mereka bela telah hilang dua hari sejak berita itu muncul di koran.

Kini Rahayu dan teman-temannya melakukan aksi demo di depan kantor kodim. Meminta agar mereka memulangkan Tukang Becak. Sebab menurut keterangan istrinya sebelum suaminya hilang ada dua orang petugas menyeret suaminya dari rumah pada malam hari dan sejal itu tak pernah kembali.

Para tentara memukuli para demonstran dengan senapan. Keadaan menjadi kacau. Emua demonstran terluka dan memar. Esok harinya, mereka mendengar kabar Polisi menemukan jasad si Tukang Becak dalam keadaan busuk tetapi tidak ada informasi dimana mereka menemukan jasad itu. Media hanya mengabarkannya dengan judul “Tukang Becak tukang kentut telah meninggal”.

Amir yanga dalah dosen di kampus Rahayu berupaya meminta bantuan dari pihak kampus. Alih-alih membantu, Hasan dan seluruj mahasiswa yang ikut demo malah di drop out.. Amir dipecat. Mereka kini putus harapan. Amir pusing bagaimana ia menjawab istri dan anaknya. Rahayu tidak tahu kemana ia harus pergi.
****************************

Pagi ini Marni melihat anaknya Rahayu datang dengan seorang pria tampan yang mancung. Amir memang peranakan Arab. Rahayu minta mereka dinikahkan secara agama saja. Tidak ada tamu, tidak ada undangan apalagi sesembahan kepada Ibu Bumi Bapa Kuasa. Marni sangat kecewa sebab ia tidak boleh melakukan acara mantu seperti impiannya. Tetapi kemauan Rahayu dan suaminya tak bisa lagi digugat. Setelah akad nikah, Rahayu dan Amir langsung pamir pergi lagi ke Jogja. Setelah itu sama sekali tidak ada kabar lagi. Kini Rahayu menjadi istri simpanan Amir. Menurut pengertian ibunya.

Rahayu dan Amir kini mengajar di sebuah pesantren milik Kyai Hasbi. Kyai Hasbi selalu menolong banyak orang dengan mengajarnya di pesantren dan membesarkan santri bersama ketiga istrinya yang selalu akur,. Kini Amir dan Rahayu mengajar dan tinggal di pesantren itu. Suatu kali, mereka mendapat kabar bahwa Desa Mehong akan diratakan dengan tanah untuk membuat sebah waduk oleh Negara. Ada 65 keluarga yang bertahan tidak mau digusur sebab nenek moyang mereka terkubur disana dan disanalah mereka bertahan hidup sejak ratusan tahun silam.

Kyai Hasbi mengajak Amir dan Rahayu ke Desa Mehong untuk mengajari anak-anak yang kini tidak bisa sekolah akibat konflik. Ultimatum sudah dikeluarkan tentara agar warga yang bersikeras disana segera meninggalkan desa itu, bila tidak mereka akan diratakan sekaligus dengan rumah mereka dengan alat berat.

Lurah desa Mehong bahkan ikut mengintimidasi warganya dan memukulinya dengan membawa preman. Sekali pernah pula kepala manusia dilempar ke depan rumah warga yang masih bertahan sebagai  ancaman. Warga disana sudah pasrah mati terhormat dan tidak akan malu menjumpai leluhur sebab mereka mati dalam MEMPERJUANGKAN TANAH LELUHURNYA.

Kyai Hasbi selalu meyakinkan warga sebanyak 65 keluarga itu bahwa mereka tidak akan digusur. Hari perataan tinggal 5 hari tetapi Kyai Hasbi masih setia mengagitasi warga untuk tetap melawan, Rahayu tetap mengajar anak-anak kampung itu. Amir telah mati tertembak tentara saat ia emmbela warga setempat yang sedang dianiaya tentara. Tetapi Rahayu tetap mengajar meski ia ingin pulang ke rumah ibunya.

Sisa tiga hari sebelum penggusuran, warga mulai tidak sabar dengan apayang akan dilakuakan Kyai Hasbi. Akhirnya Kyai Hasbi mempersiapkan manajemen aksi. Dihari alat-alat berat itu datang semua warga akan berdiri tegap di depan rumah dengan memegang tulisan protes berupa penolakan pembangunan waduk dan membiarkan mereka tinggal di tanah leluhur mereka.

Rahayu turut membantu warga mempersiapkan alat-alat aksi, tetapi tiba-tiba seorang tentara memanggil Kyai Hasbi. Tentara itu mengancam Hasbi untuk meminta warga pergi saja dari desa Mehong seperti permintaan tentara.Tentara mengancam akan membuabrkan Pesantren milik Hasbi dengan tuduhan telah bersekongkol melawan negara bersama warga PKI di desa Mehong. Hasbi tak kuasa menolak. Ia kalah dan pulang ke pesantrennya. 

Rahayu tidak selemah Kyai Hasbi ia tetap di desa Mehong dan ia menjadi korban pentungan tentara dan polisi saat aksi protes itu berlangsung.  Saat ia sadar, ia sudah ada di kamar narapidana. Ia kehilangan jiwa dan semangatnya. Ia kecewa dengan  sikap Kyai yang mengalah dan berbalik menghianati penduduk desa Mehong. Bukankah Kyai Hasbi yang mengajarkan bahwa orang kecil harus dibela apapun resikonya? Kini Rahayu tidak mempercayai siapapun lagi. Tidak tentara, tidak polisi, apalagi yang mengaku kaum rohaniawan.

********************************************************************
Dua tahun setelah Teja meninggal, Marni tetap dalam keadaan sehat bakul duit lancar, Kebun tebu juga panen baik. Hingga suatu pagi seorang perempuan berpakaian tak senonoh membawa seorang anak laki-laki yang kumal dan ingusnya ada di sekujur wajahnya ke hadapan Marni saat berjiarah ke makam suaminya.

Perempuan itu mengaku bahwa anak itu adalah anaknya bersama Teja dan ia meminta agar separuh harta Teja diberikan padanya karena demikianlah menurut peratutan adat. Tentu saja Marni tidak sudi. Dia yang bekerja keras, menguras keringat, menanggung cela dari tetangga, membayar jatah para tentara dua kali seminggu, membayar sumbangan terpaksa ke partai penguasa. Lantas siapa perempuan ini seenaknya meminta setengah hartanya untuk dibagi? Marni menatap wajah bocah itu benar mirip sekali dengan Teja. Matanya yang mungil dan hidung bangirnya. Marni tidak mau meladeni kemauan perempuan itu sebab belum tentu hanya Teja yang meniduri perempuan itu dan ia tidak rela berbagi harta dengannya. Ia hanya bersedia merawat anak itu sebagaimana ia merawat anak kandung. Tetapi perempuan itu tidak sepakat. Ia mengingini harta Marni yang banyak itu.

Marni kalah di sidang balai desa. Lurah memutuskan ia harus membagi hartanya setengah kepada perempuan itu sebab ibu dan ayah perempuan itu menyaksikan bahwa Teja memang menikah dan tinggal bersama perempuan itu. Marni kalah, ia tidak memiliki hak apapun atas harta yang ia kumpulkan dengan keringat. Sidang desa memutuskan harta Marni harus dibagi setengah kepada perempuan simpanan Teja dan setengahnya untuk Rahayu.

Dalam keadaan putus asa, Marni menemui Sumadi di kantor kodim. Sumadi adalah tentara yang tidak pernah absen menagih uang aman ke rumah Marni. Marni meminta agar Sumadi membantunya. Sumadi mengabulkan permintaannya asalkan Marni memberikan 1 hektar kebun tebunya. Marni berpikir daripada ia kehilangan lebih banyak ia merelakan 1 hektar tebunya kepada Sumadi. 

Marni tidak tahu apa yang dilakuakn Sumadi tetapi dua hari kemudian ia mendapat panggilan dari lurah ke balai desa dan membatalkan keputusan sebaliknya. Perempuan yang mengaku istri Teja itu tidak berhak diberi apapun sebab mereka tidak memiliki surat pernikahan meski orangtuanya menyaksikan mereka menikah. Marni merasa menang sekaligus sedih. Tidak membagi harta kepada perempuan itu berarti kehilangan sehektar kebun tebu untuk Sumadi. Apapun yang dilakukan tentara hanya untuk uang dan ekuntungan belaka. Marni selalu iri, mengapa mereka ini hanya duduk saja mudah mendapat uang, sementara Marni harus susah payah mengumpulkan hartanya itu puluhan tahun sejak dia anak-anak.

Pasar Ngangget berubah. Seorang laki-laki dengan perawakan rapi datang ke pasar menawarkan pinjaman dengan bunga 2 %. Jelas ini merugikan Marni, langganannya beraih ke bank bahkan sebelum mereka melunasi utang kepada Marni terlebih dahulu. Marni bangkrut. Kini yang ia punya hanya rumah dengan tiga pawon dan setengah hektar kebun tebu. Ia merindukan anaknya. Rahayu.
***************************
Ko Cayadi teman Marni dari kota tetiba datang tengah malam dan meminta untuk sementara tinggal di rumah Marni. Ia kini menjadi buron. Karena ia ketahuan masih menyembah patung dan membakar dupa untuk roh leluhurnya bahkan membiayai sebuah sanggar kebudayaanTionghoa secara diam-diam. Ia dianggap komunis dan tidak beragama. Marni tidak dapat memilih apapun. Ia sembunyikan Ko Cayadi di rumahnya.

Tak disangka-sangka pembantu di rumah Marni tak kuasa menahan rahasia. Ia membeberkan keberadaan Ko Cayadi kepada warga dan akhirnya tentara datang menagkap Ko Cayadi di rumah Marni dan tentu saja membawanya ke kantor kodim beserta Marni. Marni mali sekali, warga menuduh dia telah kumbul kebo dengan Ko Cayadi. Itu tidak benar sama sekali.

Tentara tahu ia tidak salah sama sekali tetapi Marni tetap diwajibkan membayar 5.000.000,- agar ia bisa kembali dengan nama tetap bersih di desanya. Kini, Marni menjual mobil pick upnya. Ia kasihan kepada Ko Cayadi yang harus mendekam di penjara bersama narapidana yang dicap sebagai PKI tanpa pernah diadili. Tetapi, Marni tidak mau dipenjara, ia rela membayar asal ia tidak dipenjara, meski iantak sepenuhnya bersalah.

Pagi ini Marni kembali terkejut, seorang pria tua datang ke rumahnya dan memberitahu bahwa putrinya Rahayu ditahan di sel di Semarang karena ikut memberontak bersama 65 keluarga di Desa Mehong. Bukan kepalang sedihnya Marni, baru saja ia menghindari penjara ia lantas mendengar Rahayu putri semata wayangnya mendekam di penjara. Ia mulai bertanya-tanya apa gerangan kekurangannya terhadap Ibu Bumi Bapa Kuasa.

Marni langsung berangkat ke Kota Semarang, menjumpai Rahayu yang kini sangat kurus dan tatapan matanya kosong. Rahayu yang biasanya kurang ajar kepada ibunya kini hanya menangis dan menciumi Marni sembari memohon maaf. Demikianlah Marni mengunnjungi Putrinya sekali dua minggu selama dua tahun. Ia ke semarang menompang bus.

Akhirnya Rahayu bebas tetapi masih harus melapor sekali sebulan ke kodim. Marni bersyukur kepada Ibu Bumi Bapa Kuasa. Rahayu tidak pernah membantah apapun yang diinginkan ibunya lagi. Hingga ibunya membuat syukuran akan kepulangannya Rahayu menuruti ibunya saja. Kini ia sadar, hanya ibunya tempat ia pulang. Sekaligus orang yang tidak pernah mencurigai siapa dia sejak dulu.

Kini ibunya menginginkan dia kawin dengan seorang Kuli di pasar. Rahayu turut saja. Hari pernikahan tiba, Marni menyiapkan acara mantu yang besar. Ia menyembelih tiga ekor sapi dan 4 ekor kambing hasil penjualan kebun tebunya.  Ia ingin melihat putrinya bahagia kembali, segala sesuatu ia siapkan dengan baik. Rahayu tinggal duduk dan menikmati segala pelayanan yang disediakan untuknya.

Tetapi pernikahan batal. Lelaki itu segera tahu ada tanda ET di KTP Rahayu, seperti KTP PKI, ia tidak mau keturunannya  sengsara. Marni tidak mengerti apa artinya ET di KTP dan mengapa bila ada tanda itu  masa depan Rahayu dan segenap keturunannya akan sial selamanya. Pesta gagal. Segalanya hancur.

“Rahayu putriku masih muda, cantik lagi kaya. Kamu akan menyesal tidak kawin dengan Rahayu. Nanti mantuku yang tampan, berhidung mancung berulit putih akan datang kemari. Tak gendong cucuku, tak gendong anakku”. Marni meneriaki Kuli itu. Marni gila.

Betapa kejamnya Negara merenggut segalanya dari Marni. Marni yang tidak tahu apa Pemilu, tidak mengenal PKI, tidak mengenal partai penguasa.
Marni yang menghormati leluhur, menampar kepatriarkian di rumahnya dengan tetap mandiri tanpa tergantung pada suaminya Teja. Sosok ibu yang selamanya mendukung putrinya. Negara dengan alatnya telah merenggut semua darinya. dan Sumadi tidak berbuat apapun mengembalikan apa yang dirampas darinya. Biadab!

 Rahayu kini hanya bisa merawat ibunya dengan sisa peninggalan yang ada, kepiluan tiada akhir.

[Dina Mariana Lumban Tobing]

Related

Sastra 1888587144802507414

Posting Komentar

emo-but-icon

Kabar Terhangat

Situs Web PGI

Berita Terbaru

item