WACANA....WACANA DAN WACANA

Apa itu Wacana? Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan wacana sebagai komunikasi verbal; percakapan; keseluruhan tutur yang merupakan sat...

Apa itu Wacana? Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan wacana sebagai komunikasi verbal; percakapan; keseluruhan tutur yang merupakan satu kesatuan; satuan bahasa terlengkap dengan yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh; kemampuan atau prosedur berpikir yang sistematis; kemampuan atau proses memberikan pertimbangan berdasarkan akal sehat; pertukaran ide secara verbal.
WACANA VS KONSISTENSI
Kredit Photo: D.L








Apa pentingnya wacana? Dari makna yang dituturkan KBBI sendiri secara gamblang kita bisa menyimpulkan bahwa wacana berfungsi sebagai catatan yang menjadi pengingat bahwa kita pernah membicarakan mungkin menyepakati keputusan bersama untuk direalisasikan lalu selanjutnya direkam dalam sebuah karangan atau laporan yang utuh. Garis bawahi kata utuh. Utuh berarti penuh, selesai, tuntas dan tidak sekedar berakhir. 

MAHASISWA, KONSISTENSI DAN WACANA

Sesungguhnya catatan ini adalah perenungan sederhana penulis selama berproses dan belajar dalam organisasi mahasiswa pun sering bertemu dan berdiskusi dengan para senioran tentang fenomena-fenomena sosial sehari-hari serta perumusan masalah hingga solusi yang terukur. Sejak 2013 aktif di dunia organisasi membentuk pribadi yang berpikir dan bertindak semakin teratur meski masih sering juga kebablasan terlambat mudeng.

Tidak jarang kita yang berstatus mahasiswa dan mengemban berbagai tugas di organisasi melakukan rapat atau diskusi hingga berjam-jam bahkan semalaman suntuk tanpa jeda membahas persoalan tertentu dan lalu menyepakati keputusan bersama. Lalu, dua atau tiga hari kemudian kita lupa berjamaah dengan kesepakatan yang kita lahirkan bersama tanpa istirahat itu.

Contoh sederhana adalah pernah suatu ketika di tahun 2014 penulis bersama kawan-kawan kebanggaannya mengkliping koran yang keseluruhannya berbeda kontras dengan isi berita di sebuah stasiun televisi. Berseberangan sama sekali. Dari penelaahan sederhana itu kami berdiskusi dan menganalisa persoalan itu hingga titik kesimpulan bahwa tidak ada lagi media yang independen semua sarat kepentingan, cenderung pada kepentingan pemilik media itu sendiri. Maka dengan penuh pertimbangan pula kami menyepakati kita harus memiliki media alternatif, media yang kita kelola sendiri: Buletin. 

Buletin benar terealisasi setelah molor 6 bulan dari waktu yang sudah disepakati. Apa lacur? Anggota banyak yang melanggar janji menulis dan menyetor tulisan dalam tempo yang sudah disepakati. Buletin yang tadinya direncanakan terbit per tri wulan pun kontan berubah menjadi buletin tahunan. Kesepakatan yang dilahirkan melalui diskusi dan jamak terjadi perdebatan alot itu tinggal menjadi wacana yang tidak utuh sebab tidak terealisasi sesuai kesepakatan.

Kasus yang lain adalah fase sing penting eksis. Pernah mendengar istilah itu? Mungkin mirip dengan perumpamaan benih yang ditabur dan tumbuh diatas batu. Segera ia tumbuh tetapi ketika matahari muncul ia layu seketika dan mati. Tidak sempat berakar kuat apalagi berbuah dengan berlipat ganda. 

Fase ini penulis temukan saat beramai-ramai dengan teman-teman mengikuti sebuah pelatihan menulis oleh sebuah lembaga kredibel di kota Medan. Bukan main-main empat (4) hari semua peserta digembleng untuk belajar dan langsung praktik menulis. Alhasil, semua tulisan bergaya, hidup, menarik dan penting. Semua semangat. Tentu saja harapan dari penyelenggara kegiatan itu adalah lahirnya para mahasiswa penulis yang konsisten belajar dan berpraktik menulis sebagai tugas keabadian sebagaimana dituturkan Pramoedya Ananta Toer di Tetraloginya yang masyur itu.

Lalu dimana alumni pelatihan menulis itu sekarang? Masihkah mereka mengingat bahwa mereka pernah (berkali-kali) dilatih menulis agar mau dan mampu menulis? Ataukah  anggapan hanya ikut-ikutan dan terkesan hebat dengan swafoto selama kegiatan yang diunggah di akun media sosialnya? Kepada siapa pula penulis ini bertanya?

  Dari pengalaman sederhana tetapi menjengkelkan itu, penulis menjadi curiga. Mencurigai organisasi-organisasi yang kini lebih banyak menggerutu dan dirasai semakin jauh dari persoalan basis. Tidak konsisten. Kenyataannya ketidakkonsistenan yang dilakukan secara kolektif sangat mungkin menular. Menularkan virus “tidak konsisten” itu sendiri, sehingga tumbuhlah pribadi-pribadi yang tidak konsisten sejak dari pikiran dan perbuatan. Itu kesimpulannya.

Apakah ketidakkonsistenan ini hanya dialami mahasiswa yang aktif di organisasi? Atau malah menjangkiti setiap lini organisasi non-pemerintah pun organisasi pemerintahan? Lihat saja gereja dan tempat ibadah lainnya selalu penuh, tetapi korupsi dan pembenaran jalan terus; fakta integritas menjelang pilkada selalu terpampang besar menjadi halaman utama media cetak dan tag line media tetapi politik uang lancar jaya. 

Kita pantas merenung, apakah kita sedang menggali sumur wacana kita sendiri atau berusaha menggenapinya menjadi sebuah laporan utuh. Utuh dalam artian terekam dan terlibat mulai dari perencanaan, eksekusi nyata, evaluasi dan refleksi berkelanjutan. Sebab negara ini sudah kebanjiran wacana, kini kita merindukan tindakan nyata dari orang-orang konsisten yang siap turun tangan, kalau bukan kita siapa lagi? [ Dina Mariana Lumban Tobing]

Penulis adalah Mahasiswa FKIP Bahasa Inggris Universitas Muslim Nusantara – Alwashliyah Medan; aktif di GMKI Cabang Sidikalang dan anggota aktif Kelompok Studi BARSDem, Medan
Kontak: 081287485807
Email : dinagmki@gmail.com 

Related

Terkini 8439913136220146727

Posting Komentar

emo-but-icon

Kabar Terhangat

Situs Web PGI

Berita Terbaru

item