Berhentilah Menunduk! Berbicara, Bertemu, Berbagi dan Abadikan Kisahmu dengan Suka Rela!

Anggota BARDem dan Jhontoni Tarihoran (Ketum Barisan Pemuda Adat Nusantara)  Berfoto Bersama di Pondok BARSDem, Medan Pancing Senin, 19 D...


Anggota BARDem dan Jhontoni Tarihoran (Ketum Barisan Pemuda Adat Nusantara)  Berfoto Bersama di Pondok BARSDem, Medan Pancing
Senin, 19 Desember 2016
Kredit foto : Barunk


Di bulan penghujung 2016 ini ada banyak cerita tentang pertemuan. Ya, pertemuan sanak saudara yang mudik, pertemuan kerabat di berbagai pesta pernikahan yang selalu menjamur di bulan desember, pertemuan di perayaan Natal. Mulai dari Natal Gereja, Persekutuan Marga, Komunitas Kampus hingga komunitas kos-kosan. Tetapi pertemuan kali ini bukan pertemuan beraroma Natal atau pesta pernikahan yang akan saya abadikan lewat tulisan ini.

Senin, 19 Desember 2016 di Jalan Rela No. 91 Medan Pancing pukul 13.30, pemuda yang selalu tampak bersemangat akhirnya tiba di sekretariat BARisan Demokrat, Medan Pancing. Sebelumnya saya sudah berkomunikasi dengan Jhontoni Tarihoran yang memang adalah senior saya di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia. Sejak Maret 2015 ia bertugas sebagai Ketua Umum Barisan pemuda Adat Nusantara hingga setahun ke depan. Ia memang sedang di Medan untuk urusan tugas tentunya.

Saya mengenalnya sejak awal 2013, bertemu dalam kegiatan GMKI Cabang Sidikalang dan saat itu komunikasi berjalan layaknya Senior dengan Junior terbangun dengan baik hingga sekarang. Saya tampaknya memang berbakat menjaga komunikasi dengan jaringan dengan metode SOK AKRAB SOK DEKAT dan selalu berhasil , tentu dengan orang-orang yang saya anggap masih pro rakyat saja. Banyak pelajaran yang didapat sejak sering berdiskusi dengannya baik via media sosial, Whatsapp, dan terlebih saat ada kesempatan bertemu. Suasana bersahabat, terbuka dan jenaka pasti mewarnai pertemuan.

Dengan profil demikian tentu saja, saya tak ingin suasana demikian kunikmati sendiri. Kupintakan kali ini kami harus bertemu dan berbincang dengan teman-teman seperjuangan di Pondok BARSDem. Kami memang menyebutnya Pondok. Jadilah, perbincangan mengalir dengan terbuka, semua bisa berbicara, tetawa, bertanya, sesekali bingung, serius, meledek bahkan terharu. Ditemani secangkir Kopi Sidikalang yang kami beli di warung sebelah bubuknya. Percakapan kami dengan Bang Jhontoni ini sangat santai. Tidak ada aturan atau batasan topik. 

Malah, kalau bisa jujur kami lebih banyak bercerita tentang pengalaman masing-masing yang konyol, bermanfaat sekaligus mengharukan. Bang Jhontoni (Begitu saya memanggilnya) banyak bercerita tentang sepak terjangnya di dunia gerakan mahasiswa saat studi di Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri,Tarutung, saat masa-masa romantisme dengan Ibu Kos soal masalah klasik anak kos: UANG KOS. Tentang persahabatan mereka, prestasi kuliah, tantangan dari keluarga karena dianggap terlalu lama diwisuda (nyatanya Ia berhasil wisuda setelah kuliah 4,5 tahun saja).

Lalu, sebentar kemudian pembicaraan akan menjurus kepada perjuangan masyarakat dan pemuda adat di berbagai tempat di Nusantara; tentang masuknya RUU Masyarakat di Prolegnas Prioritas 2017 di tingkatan DPR RI; sambutan hangat dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan tentang Pendidikan Berbasis Masyarakat Adat yang coba diimplementasikan mulai 2017.  Suasana bersemangat dan penuh persahabatan itu sangat kental terasa.  

Lalu, berbicara tentang rencana ke depan. Menyoal kembali ke kampung dan membangun kampung sampai pada impian menjadi salah satu pengambil keputusan di daerah asalnya, Kabupaten Toba Samosir. “ Impian harus dibangun, Bro”, tandasnya.  Soal antitesis dunia kampus yang membatasi ruang diskusi para mahasiswa, seperti kasus Drop Out dan Skorsing yang sedang laris-manis di berbagai kampus di Sumut. Banyak tanya, tawa dan wawasan dari pengalaman yang ia bagikan kepada kami. Sedapnya Kopi Sidikalang setia menemani renyahnya perbincangan itu.

Perut baru berontak menuntut diisi setelah pukul 16.45, kami makan bersama hanya dengan mi instan dan  ayam komplit (telor) yang direbus tanpa bawang atau bumbu tambahan lainnya ditambah dengan nasi yang berasnya juga dari Sidikalang. Beras hasil panen padi orangtua saya di kampung. Tetap saja terasa enak dan cukup. Setelah menyantap makan siang rangkap makan malam itu, diskusi kembali dilanjut. Tawa dan canda masih mengisi ruang diskusi ukuran 4x 3 meter itu. Jelas kami sedang berbagi energi dan semangat perlawanan.

“Pengalaman-pengalaman pahit, manis, lucu, senang itu harus kita abadikan. Tulislah, itu pasti akan sangat berguna dan selamanya akan bisa dikenang bersama. Bila bukan kita yang menulis lalu siapa lagi?” katanya sebelum  Ia pamit sebab ada kegiatan lain yang harus ia hadiri.

Rasanya waktu selalu terasa singkat saat bertemu dan berbincang bersama kawan-kawan yang bersemangat. Sayang rasanya pengalaman berharga hari ini bila tidak saya tuliskan dan bagikan. Pada mulanya adalah komunikasi. Komunikasi selalau membawa energi positif terutama saat komunikasi menghasilkan pertemuan. Tidak sekedar berjumpa lalu menebar photo selfi sebelum dungu bersama dengan gadget super canggih yang menyita banyak waktu dan duit penggunanya. 
Jadi, kawan jalinlah komunikasi, berbasa-basilah, bertemu, bagikan dan abadikan cerita hebat dan seru itu. Cerita hebat tidak selalu terjadi saban hari. Tahukah teman-teman apa yang saya dapat dari pertemuan hebat hari ini? Energi positif untuk berjuang di Medan sebagai indekos, informasi terbaru dari kawan-kawan BPAN, prestasi dan kemenangan-kemenangan kecil dari para pejuang kemanusiaan dan lingkungan hidup dan sebuah buku bagus berjudul “ Cantik Itu Luka”, dan ide menuliskan kisah ini tentunya.

Lalu, masihkah kita mau diperbudak gadget untuk diam, tunduk bahkan saat sedang bersama dengan kawan-kawan? Masihkah kita enggan berkomunikasi meski kita sudah tahu bahwa kita adalah mahkluk sosial yang paling membutuhkan komunikasi? Think it again, dear.  Semangat berlawan dengan gembira untuk kita semua dan mari berkomunikasi. Semesta mendukung. Tabik! 


Garu IV, Medan Amplas
22:52 wib

Related

Terkini 6908955405579441562

Posting Komentar

  1. Mari mengobrol dengan makhluk sosial
    Bukan mengobral di media sosial
    Harus nya kita bertatapan
    Bukan saling bertutupan

    BalasHapus

emo-but-icon

Kabar Terhangat

Situs Web PGI

Berita Terbaru

item