STOP KEKERASAN TERHADAP ANAK DAN PEREMPUAN

Foto Bersama Peserta Seminar dan Narasumber Ini adalah catatan sederhana Penulis saat mengikuti  Seminar “ Kekerasan Terhadap Anak dan...


Foto Bersama Peserta Seminar dan Narasumber

Ini adalah catatan sederhana Penulis saat mengikuti  Seminar “ Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan” yang di selengarakan oleh Persekutuan Perempuan Berpendidikan Theologi di Indonesia (PERPURATI) dan Badan Pendurus Daerah (BPD) Daerah Istimewa Yogyakarta di Kampus Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta Jl. Dr. Wahidin.


Seminar ini menghadirkan para pembicara yang ahli di bidangnya seperti  Siti Darmawati, S. Psi, yang memberikan pemaparannya tentang “Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan dalam perspektif Psikologi”.  Kesehariannya bekerja di Lembaga “WCC Rifka Annisa”  sebuah lembaga yang selalu setia menerima pengaduan masyarakat tentang kasus kekerasan kepada anak dan perempuan. Ada juga  Dr. Sari Murti (Komnas Perlindungan Anak) yang memandu peserta dengan materi yang sama dalam perspektif hukum ;  serta Pdt. Dr. Asnath Niwa Natar  yang memaparkan materi dari sisi Theologia.


Panitia memandu seminar ini dengan sangat menarik. Keterlibatan bersama antara akademisi dengan masyarakat dan beberapa warga gereja membuahkan dialog yang sangat atraktif. Sebab teori yang dikemukakan para narasumber dibenturkan langsung dengan keadaan lapangan berdasarkan data dan kesaksian para peserta seminar.  Yang menjadi fokus perhatian  data yang di berikan oleh Siti Darmawati, S.Psi. menunjukkan bahwa  indeks kekerasan terhadap anak dan perempuan pada dekade  enam bulan terakhir masih menghkawatirkan, secara khusus kekerasan KTI mencapai 1.541 Kasus, Pemerkosaan 227 kasus, pelecehan seksual 128, kekerasan dalam pacaran 206 kasus, kekerasan dalam keluarga 48 kasus. Data tersebut tentu memerlukan perhatian secara serius dari seluruh hadirin.  Ibu Siti juga menyampaikan bagaimana kita harus lebih memahami psikologis anak dan perempuan, terkhusus pada anak karena mereka tidak selamanya pernah mau atau berani untuk bercerita kepada orang tuanya apa yang terjadi kepada mereka, sehingga itu dapat mengakibatkan  gangguan psikologis berkepanjangan terhadap  Si Anak.  Dr. Sari memandang  hukum kita saat ini masih belum dapat menjawab segala kebutuhan yang terjadi di lapangan sebab masih banyak kasu di lapangan yang tidak dapat di proses oleh pihak kepolisian dengan alasan alat bukti  tidak lengkap, padahal ketika kekerasan dan pelecehan itu terjadi yang ada hanya ada si anak atau si perempuan itu serta pelakunya sendiri di dalam  sehingga terjadi  kesulitan penyidikan, oleh karena itu  Dr. Sari menyarankan agar ketika terjadi sebuah tindakan kekerasan terhadap anak atau perempuan agar segera langsung di bawah ke Rumah Sakit terlebih dahulu agar ada bukti visum agar  bisa melengkapi bukti konkrit di kepolisian.


  Dr. Asnath menyampaikan secara tegas dan lugas  bahwa di Alkitab pun ada beberapa contoh tindakan terhadap perempuan.  Ia menyatakan bahwa hal itu terjadi hingga saat ini di Indonesia, dapat juga di sebabkan oleh budaya patriarki yang begitu dominan di kalangan masyarakat, sehingga merasa menguasai semua lini kehidupan masyarakat.
Di penghujung acara para peserta menyepakati hal –hal yang harus dilakukan  untuk mencegah kasus; saat melihat atau menjadi korban kekerasan terhadap anak dan permpuan melalui diskusi. Rumusan yang dipaparkan beberapa kelompok diantaranya: harus  sama-sama menciptakan suasana rumah yang damai dan terbuka, mendorong komunitas yang peduli akan kekerasan terhadap anak dan perempuan, adanya konseling pastoral/pendampingan serta melakukan pencegahan, orang tua harus menjadi teladan, anak-anak dibawah umur 17 harus menjadi perhatian khusus, budaya patriarki yang mendiskreditkan keberadaan dan nilai anak serta perempuan harus dikikis. 


Penulis meyakini  kegiatan yang demikian harus rutin dilakukan dan kita berharap juga bukan hanya sebagai kegiatan seminar saja melainkan sampai kepada tingkatan pelatihan mengingat masalah ini sudah menjadi masalah yang sangat genting dan darurat. Terlebih untuk kasus kekerasan dan pelecehan terhadap anak sudah begitu banyak orang tua  yang tidak bersama-sama dengan anak, semakin banyak kini yang  sibuk di luar dengan alasan perekonomian, anak di berikan segala sesuatu yang ia inginkan (Hp, gadget) sedangkan kebutuhannya (Kasih sayang, perhatian dan perlindungan) tidak  sempat lagi di berikan oleh orang tua, sehingga anak tumbuh dengan kehidupan tanpa ada cerminan dari orang tua selaku  pendidik  pertama bagi anak.


Akhirnya untuk semua masyarakat Indonesia marilah kita semua menciptakan perilaku yang ramah dan aman terhadap seluruh anak dan perempuan di Negeri ini. Karena setiap anak adalah anugerah dan memiliki hak untuk hidup aman, bermimpi dan memberi harapan bagi bangsa kita. Perempuan sebagai fondasi peradaban. Mahatma Gandhi pernah menitipkan Pengingat bagi dunia : Bila ingin tahu keberadaban suatu bangsa, lihatlah bagaimana mereka memperlakukan para perempuan. Sekali lagi, mari menciptakan rumah dan lingkungan yang Ramah dan Aman untuk anak dan perempuan. 
 [Fawerfull Fander Sihite]
Penulis adalah Ketua GMKI Cabang Pematang Siantar-Simalunhun dan sedang melanjutkan studi S2 di UKDW, Yogyakarta.

Related

Terkini 391929833814475460

Posting Komentar

emo-but-icon

Kabar Terhangat

Situs Web PGI

Berita Terbaru

item