AMANG PARSINUAN .......Sang Ayah.......

Referensi RESUME BUKU Judul Novel :Amang Parsinuan    ( Sang Ayah . . .) Karya : Lucya Chriz Penerbit : KSI Medan Publis...


Referensi

RESUME BUKU

Judul Novel :Amang Parsinuan    ( Sang Ayah . . .)
Karya : Lucya Chriz
Penerbit : KSI Medan Publishing
Cetakan : I    : September 2011
Jumlah Halaman : 125 Halaman  10 Bab
Ukuran : 16 X 11 cm


Novel ini ditulis oleh seorang Mahasiswi Jurusan Psikologi di Universitas Medan Area pada tahun 2011, bernama Lucya Chriz. Dengan telaten ia melukiskan kisah keluarga Batak Toba yang menitikberatkan pergulatan emosional dan psikologis seorang perempuan yang menjadi panoroni (Ibu Tiri)bagi anak-anaknya buah pernikahan dengan mendiang istri pertamanya.

  Panoroni  ini jauh dari sifat jahat apalagi kriminal seperti banyak digambarkan sinetron-sinetron di masa orde baru. Mengenaskan bahwa tidak semua Ibu tiri itu Jahat dan kriminal, sebaliknya banyak juga Ayah tiri yang akhirnya merusak kehidupan keluarga. Penulis justru menyoroti kehidupan seorang Karakter Bapak yang bernama Lomo yang akhirnya memilih menikah lagi dengan perempuan lain atas tuntutan orangtua dan keinginannya sendiri. Demi satu hal: Mendapatkan Anak Laki-laki, Pewaris Marga. Dalam hirarki adat Batak yang patriarchaat tentu hal demikian bukanlah fenomena yang ganjil. Demikian dikisahkan....

Seorang pemuda kampung nan kuat, rajin dan tampan bernama Lomo Pardede akhirnya menikah dengan Gadis idamannya bernama Uli. Kawin lari mereka sebab dari awal hubungan mereka tidak disetujui orangtua Uli yang mengharapkan borunya bisa mendapatkan pria yang berpendidikan lagi kaya.

Setelah menikah Lomo dan Uli memutuskan melanjutkan kehidupan rumah tangga di Kota Medan. Mereka memulai kehidupan rumah tangga dengan hasil tabungan Lomo sewaktu bekerja keras di Kampung. Lomo bekerja di percetakan dan keadaan ekonomi membaik. Layaknya kehidupan rumah tangga baru semuanya berjalan dengan baik dan penuh cinta. Anak pertama telah lahir, bayi Perempuan. Uli sangat senang tetapi Lomo terlihat murung. Ia berharap anak laki-laki yang datang malah bayi Perempuan. Ia beri nama Lasma meski hati Lomo sama sekali tidak se las (Senang) istrinya.

Tahun berganti, anak kedua lahir. Bayi Perempuan. Hal ini malah membuat Lomo semakin kecewa dan kerasukan amarah. Kegagalan mendapat Pewaris Marga membayang di pelupuk pikirnya. Benih demi benih pun ditanam di rahim Uli bukan atas nama ikatan cinta apalagi kebahagiaan keluarga tetapi demi mengejar target: Mendapat ANAK Laki-laki.

Delapan tahun berlalu, sudah terlahir lima perempuan cantik buah pernikahannya yang semakin dingin itu. Lomo semakin frustasi. Kehidupan ekonomi membaik. Kini Lomo sudah memiliki satu percetakan milik sendiri. Tetapi, ia merasa gersang akibat tidak juga diberi anak laki-laki Sang Pengatur. Tingkat depresi di titik maksimal saat kedua orangtua Lomo mengunjungi mereka di kota Medan tanpa pemberitahuan. Uli merasa sangat canggung terhadap mertuanya itu. Ia sudah tahu, segera mertuanya akan mendikte suaminya untuk segera menikah lagi demi anak laki-laki.

Benarlah sudah. orangtua Lomo benar datang mengunjungi mereka demi satu visi: Mendapatkan cucu laki-laki untuk pewaris Marga dilengkapi satu misi sepihak: menikahkan anaknya dengan perempuan lain yang dianggap pantas. Uli mendengar Lomo telah menyepakati usul ayah-ibunya itu tanpa meminta pendapat Uli apalagi mempertimbangkan perasaan pilu Uli.

Tidak kuasa dan tidak rela dimadu, tragis. Uli memilih bunuh diri di kamarnya setelah mertuanya pulang ke Balige. Ia meninggalkan 5 putri. Paling kecil berumur tiga tahun; dan seorang suami yang ingin menikahi perempuan lain tanpa persetujuannya.  Lomo bersedih Uli memilih jalan itu, namun segera ia berpikir bahwa aksi bunuh diri itu  JUSTRU TAKDIR YANG DISURATKAN TUHAN UNTUK MEMULUSKAN JALAN PERNIKAHAN KEDUA BAGI LOMO..(Betapa sesat pikir tentang takdir dan Tuhan pun diplintir untuk memuluskan kepentingan pribadi).

Kehidupan berlanjut, Lomo mulai menyadari betapa ia sudah membuat Uli menderita  seumur hidupnya. Sudah rela dibawa kawin lari, diperlakukan seperti mesin produksi anak, lalu dihianati persekutuan suami dan mertuanya sendiri, lalu meninggalkan putri yang bahkan masih menyusu. Di awal menjadi lelaki baru membuat Lomo menjadi perhatian kepada kelima putrinya.

Suatu kali ia bertemu dengan mahasiswi cantik dan muda di teras seseorang saat berteduh karena hujan deras. Lomo saat itu sedang mencari makanan untuk kelima putrinya. Ia berkenalan dengan mahasiswi itu, memberikan alamatnya.
Hari berganti singkat cerita Lomo berhasil menikahi mahasiswi itu dengan risiko dicoret ayahnya dari daftar anggota keluarganya. Gadis ini bernama Roma Lumban Tobing. Perempuan lembut yang sejak awal telah memberikan perhatian layaknya ibu kepada kelima putri Lomo. Bahkan setelah menikah dengan Lomo ia tidak mengubah perhatiannya kepada kelima putri Uli.

Akhirnya Roma pun melahirkan Si Ucok, bergetar tangan Lomo memangku putra yang telah lama ditunggu-tunggu itu Holong namanya. Ia kian tidak menghiraukan kelima putrinya. Roma merasakan itu sehingga ia tetap memberi kasih sayang yang cukup dan sama kepada kelima putri yang kini ia anggap bak putrinya pula. Roma berulangkali mengingatkan Lomo untuk memperhatikan kelima putrinya tetapi Lomo hanya berani berjanji bak politisi tanpa berniat menunaikan janjinya itu.

Suatu kali Roma menemukan diari milik Lasma yang sudah beranjak remaja, berisi kekecewaanya terhadap sikap Bapaknya yang hanya sayang dan memperhatikan Holong. Roma menangis sedih ia mengerti bagaimana perasaan kelima putrinya itu. Saat menangis, Holong si bayi yang baru lahir pun bangun dan minta disusui. Roma memberinya menyusu. Tak disangka, Tiopan anak perempuan Uli yang kini beranjak 4 tahun pun datang. Menatap lekat-lekat betapa adiknya menikmati setiap isapan yang menjadi asupan giji dari tarus Roma.
“ Mak, Tiopan mau minum susu juga” kata Tiopan.
“ iya mari kita ke dapur dan buatkan susu untuk Tiopan” Jawab  Roma
“ Enggak itu, Tiopan maunya dari situ” seraya menunjuk payudara Roma
Roma tak sanggup menolak permintaan lugu Tiopan yang mungkin merindukan menyusu pada ibunya Uli. Ia mengabulkan permintaan Tiopan sambil menangis, ia merasa iba yang mendalam kepada Tiopan yang akhirnya tertidur di pangkuannya.

Kehidupan berjalan terus. Roma kini melahirkan anak laki-laki lahi diberi nama Togap. Tetapi, Lomo tak menunjukkan kebahagiaan. Ia sibuk dengan usaha percetakan yang kini telah ia buka di dua cabang. Di Pancing dan di luar kota. Ia semakin sibuk dan jarang  pulang. Ia hanya meletakkan amplop untuk biaya sehari-hari di rumah untuk dikelola Roma. Tanpa pesan tanpa kata.


Suatu kali Roma pergi ke pasar meninggalkan ke tujuh anaknya untuk berbelanja. Ia kaget sejadi-jadinya melihat Lomo datang, duduk di sofa sementara seluruh anak-anaknya diminta duduk mellingkar di atas lantai. Belum sempat berkata apa-apa, Roma langsung menerima makian dari Lomo. Ia difitnah telah selingkuh selama Lomo tidak di rumah dan menelantarkan anak-anaknya. Puas memukuli Roma, kini Lomo menyeret Roma ke kamar dan melakukan ritual menari dalam diam yang sama sekali tidak berlandaskan cinta. Hanya luka di hati dan di tubuh Roma kini yang tinggal. Lomo pergi begitu saja setelah aksinya itu.
Kisah ini benar-benar membekas dihati seluruh anak-anaknya. Mereka membenci Lomo dengan sangat. Tak diduga, kini Roma kembali mengandung. Ia melahirkan anak laki-laki, bernama Gogo.  Lomo semakin tak perduli.
Ketidakperdulian ini membawa puncak kecurigaan bagi Roma. Suatu kali ia nekat mencari Lomo ke tempat percetakan sebab sudah lama sekali Lomo tidak pulang ke rumah. Ia tidak dikenali staff percetakan pertama mereka. Staffnya malah kaget ketika Roma memperkenalkan dirinya sebagai Istri dari Lomo, bos mereka. Akhirnya salah satu staff lama datang dan memberi petunjuk, mungkin Lomo ada di percetakan di Pancing.


Tidak kehabisan akal, Roma datang  menuju percetakan di Pancing, ia membawa bayinya Gogo. Staff di sana juga kaget ada perempuan membawa bayi dan mengaku istri bos mereka. Satu staf perempuan malah memberitahu bahwa istri bos mereka bernama Pinta pernah menjadi karyawan di percetakan itu. Roma merasa dunia telah runtuh kakinya melemas. Di saat yang bersamaan datang sebuah mobil, Lomo dengan seorang perempuan beserta bayi berumur dua tahun. Lomo membentak Roma mengapa ia datang ke percetakan. Roma balik bertanya siapa perempuan dan anak yang turun bersama Lomo.


Lomo, tanpa merasa bersalah menjelaskan bahwa perempuan itu bernama Pinta. Istrinya dan anak yang digendong itu adalah anak mereka. Roma menampar  Lomo. Saat ia sudah mendapat anak hasil perselingkuhannya dengan Pinta, Lomo bahkan masih berani menuduh Roma berselingkuh dan menyakiti Roma secara fisik dan seksual setahun lalu.


Dalam rasa kalut, marah, sedih karena dihianati Roma pulang ke rumah dan meletakkan Gogo di tempat tidur. Ia tak bisa menerima kenyataan. Ia rela meniggalkan kuliahnya demi cintanya kepada Lomo bahkan tidak gentar saat ayahnya mencoret namanya dari daftar nama keluarganya saat memilih kawin dengan Lomo. Lalu, apa balasan dari Lomo? Roma tak kuasa lagi, ia berjalan ke dapur mengambil sebilah pisau dapur yang tajam.  Ia hendak bunuh diri seperti Uli di kamar yang sama.


Tuhan tidak tidur, Ia menyapa Roma di detik-detik penyerahan dirinya pada ujung pisau. Roma mendengar sapaan yang sejuk, lembut dan ia merasa ia menemukan Sosok yang paling tahu keadaannya dan menjamin kehidupannya  beserta 8 orang anaknya ke depan. Ia disadarkan tangis Gogo dan merasa kuat kembali menghadapi hidup.


Roma tidak mau bercerai dan tidak menerima apapun dari Lomo lagi. Ia menjual kalung emas miliknya saat masih gadis dan membuka usaha kecil-kecilan di depan rumahnya, Tuhan pelihara keluarga itu. Seluruh anaknya berhasil di sekolahkannya.

Tahun berkejaran, kini Roma bisa bernafas lega. Gogo bahkan sudah tamat kuliah dan bekerja di Kalimantan. Semua saudari dan abangnya telah menikah. Semua kini baik saja.

Hingga suatu sore Lomo tetiba datang ke rumah dan meminta agar Roma bersedia bercerai. Mereka sudah beranjak umur 60 tahun.  Roma tahu, kedatangan Lomo meminta cerai darinya bukan demi anak hasil perselingkuhannya dengan Pinta, tetapi agar Lomo mendapat pesta adat nagok saat ia meninggal nanti. Sebab bila ia tidak bercerai dari Roma, Pinta sama sekali tak berhak untuk memberinya pesta adat yang layak. Padahal Lomo kini sudah terpandang di Kota Medan sebagai pengusaha yang sukses. Apa kata dunia bila pengusaha itu dikuburkan tanpa penghormatan yang layak?


Roma Lumban Tobing mengetahui persis bahwa dalam adat Batak Toba hanya istri pertama yang diakui adat sebagai parsondukbolon yang sah bagi laki-laki yang beristri lebih dari satu. Satu-satunya keistimewaan yang dapat dipertaruhkan Roma sebagai Perempuan Batak terhormat. Ia mengatakan “ Aku tidak mau bercerai dan aku tidak menjamin apakah aku bersedia mangadopi mayat dan mennyediakan adat untukmu bila kau meninggal.”  Sikapnya jelas dan tegas, menghukum Lomo.

Lomo kini sakit, setiap minggu ia harus menjalani ritual medis seperti cuci darah. Tidak ada anak-anaknya yang bersedia mengurusnya. Empat putrinya dari Uli, serta dua anak dari Pinta memang bersekutu kini dengan Lomo untuk merayu Roma agar mau bercerai. Tetapi Tiopan tidak berhianat kepada Roma. Mungkin pengaruh ia menyusu kepada Roma berdampak secara emosional dan menentukan keberpihakannya kepada Roma. Lainnya hanya sepakat atas nama imbalan warisan yang dijanjikan Lomo.


Tak disangka tetiba Gogo menawarkan diri untuk menjaga ayahnya itu. Semua keluarga kaget tetapi senang saja dengan keputusannya itu. Gogo mulai merawat ayahnya di rumah pribadinya. Tetapi, dari hari ke hari keadaan Lomo makin buruk. Gogo menyiapkan skenario yang rapih untuk membalaskan dendam ibunya kepada Lomo.


Lomo meninggal di rumah Gogo, dan Gogo mesti masuk penjara. Di acara penguburan Lomo yang diurusi Roma, Gogo melihat 3 siluet dari kejauhan. Pinta dan kedua anaknya. Sementara Roma hanya menangis lirih. Ia menggugat takdir yang begitu kejam.

1. Apa pesan moral novel ini?
2. Kaitannya dengan kebiasaan keluarga Batak, apa yang dikritik Penulis?
3. Perempuan seperti apakah kita? Uli? Roma? Pinta? Atau Putri-putri Lomo?
4. Laki-laki seperti apakah kita? Lomo yang terobsesi dengan anak laki-laki lalu merusak rumah             tangganya dengan keberadaan ekonomi yang baik? Atau menjadi Gogo yang menyimpan segala         dendam lalu menuntaskannya dengan mengorbankan nyawa?
5. Benarkah Tuhan tidak tidur?

Tetapi aku akan tetap menjadi Dina Lumban Tobing yang menjalani hidup yang penuh kejutan, dan berupaya menjadi yang terbaik untuk hidup ke depan.
Selamat membaca dan merenung.!
Contact me on fb Dina Tobink, dinagmki@gmail.com, 081287485807

Related

Terkini 4950107365411196932

Posting Komentar

emo-but-icon

Kabar Terhangat

Situs Web PGI

Berita Terbaru

item