Workshop FILM Perdamaian

Suasana Kelas Media Perfiliman STT Methodist: Setelah sukses melaksanakan Seminar sehari yang bertajuk Media dan Perdamaian pada 21 Mei ...

Suasana Kelas Media Perfiliman
STT Methodist: Setelah sukses melaksanakan Seminar sehari yang bertajuk Media dan Perdamaian pada 21 Mei 2016 yang lalu di Gedung FIS UINSU, Medan kini RKI bekerja sama dengan YAKOMA PGI dan PGI menggelar Workshop Festival Film Perdamaian untuk tingkat Mahasiswa di Gedung STT Methodis, Banda Baru, Sumut. Workshop ini diawali pada Minggu, 18 September 2016 hingga 21 September 2016. 


Peserta Workshop kali ini adalah mahasiswa dari berbagai kampus yang ide ceritanya telah dinyatakan lulus oleh Panitia dan layak dijadikan Film pendek untuk Festival Film Perdamaian pada November 2016 mendatang di Medan. Delapan ide cerita itu berasal dari berbagai Mahasiswa yang ada di sumut yang mengirimkan idenya kepada panitia setelah seminar sehari pada 21 Mei 2016 yang lalu. Peserta Workshop Festival Film Perdamaian ini datang dari berbagai Kampus antara lain 2 tim dari Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU); 2 tim dari Sekolah Tinggi Theologi Methodist; 2 tim dari Sekolah Tinggi Theologia Bibelvro; 1 tim dari Sekolah Tinggi Theologia Diakones dan 1 tim dari gabungan 3 kampus yaitu Universitas Muslim Nusantara Alwashliyah Medan. STMIK Budi Darma, Medan serta STMIK Ganesha Medan. Masing-masing tim terdiri dari satu Sutradara, satu Kameramen dan satu orang penata artistik.


Pada 19 September 2016 Workshop Festival Film Perdamaian ini dibuka secara resmi oleh Pdt. Gomar Gultom selaku Sekum PGI di Capel STT Methodist, Bandar Baru. Pembukaan ini dihadiri Ketua Yayasan STT Methodis, Direktur STT Methodist Pdt. Sahat Lumban Tobing, S.Th, Rayni MP.Hutabarata (Reseacrh Publication YAKOMA PGI), Bpk Agung (Yakoma PGI), Tim dari Rumah Karya Indonesia (RKI). Acara  pembukaan ini berlangsung sangat sejuk. Lagu Kebangsaan “ Indonesia Raya” dipandu oleh Putri (Mahasiswi UINSU) yang mengaku baru pertama kali memasuki lokasi STT Methodist. Ia mengaku ini akan menjadi kenangan dan kesan damai yang tidak akan ia lupakan.


Pdt. Gomar Gultom dalam sambutannya menyatakan bahwa pada era tsunami media dan tekhnologi hari ini, sangat penting bagi Kampus-kampus berbasis Keagamaan untuk memanfaatkan media sebagai corong perdamaian dalam keberagaman. Sebab alumni dari kampus-kampus tersebut akan menyiarkan/ berkotbah ke luar kampus. Sehingga menjadi penting membekali mereka untuk memiliki perspektif kedamaian terhadap keberagaman di Indonesia yang memang sangat majemuk. Festival Film Perdamaian ini menjadi salah satu upaya yang dipandang sangat strategis untuk mengkampanyekan perayaan dan penghormatan akan kemajemukan bangsa ini.


Ojak Manalu selaku Koordinator Acara dalam sambutannya mengatakan bahwa  jumlah mahasiswa yang mengirimkan ide ceritanya sangat antusias, maka peserta yang hari ini diundang untuk workshop festival film perdamaian ini adalah ide cerita yang terbaik. Maka, peserta diharapkan semangat dan percaya diri selama Workshop berlangsung.


Materi pertama difasilitasi oleh Rayni MP.Hutabarat dari Yakoma PGI Jakarta.  Ia membekali peserta dalam hal penajaman Tema “Penghormatan terhadap Keberagaman”. Materi kali ini menitikberatkan pentingnya mengangkat nilai-nilai lokal baik dalam skenario dan penyampaian bahasa melalui gambar yang akan diambil nantinya. Sebab penghormatan terhadap Keberagaman berarti merayakan keberagaman itu. Setiap wilayah dan suku pasti memiliki latar belakang budaya yang berbeda dan mengandung nilai-nilai kebaikan, sehingga dalam film yang akan digarap para Calon Sineas ini diharapkan mengangkat nilai-nilai itu sebagai kekayaan yang harus dipelihara dan banggakan. Materi pertama ini sangat menggugah peserta. Terjadi diskusi dan tanya jawab yang sangat menarik, hal ini menunjukkan betapa seriusnya para peserta ini ingin mengetahui tujuan dari workshop ini.


Hari ke-2, materi diberikan secara kelompok. Kelompok dimaksud terbagi atas Kelompok Sutradara, Kelompok Kameramen dan Kelompok Penata Artistik. Hal ini dilakukan agar masing-masing peserta mendapat ilmu dan informasi mendalam terkait tugas-tugasnya yang sangat diperlukan pada saat pengambilan gambar.  


Setelah diberi panduan secara terpisah, semua peserta kembali dikumpulkan dalam satu ruangan untuk menyatukan dan saling menghubungkan ilmu dari masing-masing kelompok. Sebab memang dalam pembuatan film, kerja sama tim adalah hal mendasar yang harus terjaga, komunikasi dan diskusi di masing- masing tim menjadi sangat penting. 


Nova Lumban tobing (Cameramen Tim Parbue) mengaku sangat bersyukur mendapat ilmu potografy dan teori serta praktik pengambilan gambar. “Aku bersemangat sekali, karena aku masih sangat amatir dalam penggunaan Kamera tetapi disini kita diajari teknik-teknik pengambilan gambar hingga pengeditan gambarnya nanti”. Sementara Diana Malau (Sutradara  Tim Diakones) mengatakan bahwa materi tentang skenario masih sangat perlu ia dalami dan ia mengapresiasi seluruh pemateri yang siap memberikan bantuan selama workshop. Jojo (Peserta dari STT Methodist) mengaku bahwa komunikasi antara sutradara, kameramen dan penata asrtistik penentu kualitas film yang akan digarap nanti. Bila ide cerita sudah cemerlang, maka kameramen dan penata artistik mesti sepaham terkait teknik pengambilan gambar dan property/wardrobe selama syuting.


Tanggal 20 September 2016, peserta langsung diminta mempraktikkan teori-teori yang telah diterima pada pertemuan sebelumnya. Peserta langsung melakukan proses syuting masing-masing satu scene. Seluruh tim mengambil gambar di lokasi STT Methosist dengan memberdayakan peralatan dan fasilitas yang tersedia sebagai property dan wardrobe scene masing-masing. Pada sore harinya, hasil gambar yang telah diedit masing-masing kelompok ditonton, diapresiasi dan dievaluasi bersama di ruangan workshop. Masing-masing tim diberikan kesempatan untuk memutar scene nya dan menjelaskan seputar scene. Kemudian tim dari RKI, Yakoma PGI dan peserta lain akan memberikan tanggapan baik masukan, saran dan apresiasi terhadap masing-masing tim. Demokratis sekali. 


Rabu, 21  September 2016 seluruh tim diminta untuk kembali melakukan syuting scene yang lain. Berbekal masukan dan saran yang didapat hari sebelumnya, seluruh tim tampak bersemangat mengambil gambar. 5 tim terlihat sangat sibuk mempersiapkan lokasi dan property untuk syuting di lokasi STT Methodist yang memang sangat mendukung sesuai ide cerita yang telah dibedah melalui skenario. Sementara dua tim lainnnya memilih mengambil gambar di luar lokasi STT Methodist. Tim dari STT Methodist memilih Pasar Tradisional Bandar Baru sebagai lokasi syuting mereka. Pada pukul 14.00 wib, semua tim kembali mempresentasikan hasil syuting mereka di hadapan peserta serta pemateri. Tampak jelas peningkatan yang sangat tajam baik dari teknik pengambilan gambar, establishing lokasi cerita, artistik hingga pendalaman aktor/aktrist yang ditunjukkan setiap tim.


Agus Susilo (RKI) menyatakan bahwa sutradara harus memperhatikan dan mempertimbangkan kemampuan penokohan (akting) dari setiap pemainnya. Sebab kemampuan pemain film  sangat berpengaruh pada kualitas film nantinya. Sebab aktor harus mampu menunjukkan pergulatan emosional dan keadaan pada penonton dengan mengandalkan mimik, penjiwaan karakter bahkan tanpa dialog sekalipun.


Akhirnya, seluruh rangkaian Workshop telah rampung. Pada acara penutupan acara Pak Agung kembali memberikan semangat kepada para Calon Sineas muda ini untuk tidak berhenti pada workshop tetapi melanjutkan syuting film sesuai ide ceritanya. Film yang digarap setiap tim akan diserahkan kepada panitia paling lambat 4 November 2016 untuk dinilai dan akan diumumkan pemenangnya pada Festival Film Perdamaian di Medan pada November 2016.


Semoga upaya ini berhasil mengkampanyekan penghormatan dan perayaan terhadap keberagaman di Indonesia demi perdamaian. Sampai bertemu di Festival Film Perdamaian 2016 para Sineas Muda. Salam Perdamaian, Peace!

Related

Gmki Sidikalang 2718910473677066837

Posting Komentar

emo-but-icon

Kabar Terhangat

Situs Web PGI

Berita Terbaru

item